Flawless Love

Senin, 04 Mei 2015

FL : 1. Her circumstances and His conjecture

P.S : Wow. ^ ^ Kiza sifatnya lucu banget, jadi semangat nulis. Enjoy writing,haha. Belum sempat upload Scattered Journal II. Besok aku janji. XD
Wanna read more? Feel free to follow me oke?

Platform yang tertancap disalah satu sudut toko ini berbunyi, Billiard Shop Reeka. Bangunannya sama seperti keterangan Mama, di terasnya terdapat banyak meja dinner dan bergaya Italia. Lantainya terbuat dari batu kapur pucat yang disusun acak, disampinya berdiri banyak sekali tumbuhan palem mini yang begitu hijau.
Aku berlari menuju bangunan itu dengan hati hati, berharap sekotak kue tart yang kubawa takkan belepotan di kardus. Poniku berayun seiringan dengan setiap langkah yang kuambil. Seharusnya aku mengajak Niki ketempat ini, biasanya sahabatku itu menyukai hal yang kuno dan vintage.
Kudorong pintu dengan gerakan perlahan namun masih bisa membunyikan bel antik warna emas yang tertempel diatasnya. Ruangan itu cukup luas, meski sebuah meja billiard lebar telah menghabiskan banyak area,dengan sinar temaram dari dua wall lamp yang tertempel di sudut. Ubinnya berasal dari keramik berwarna hitam pekat. Dibeberapa bagian luang berdiri coffee table beserta sofa crimson red elegan.  Konternya berhadapan dengan sebuah meja kayu panjang dengan beberapa stool sebagai tempat duduk pelanggan.
 “Bibi Rika?” Panggilku untuk memecah kesunyian. Tempat ini begitu gelap.
“Oh... Kiza! Aku kira kamu tidak akan mau membantu bekerja di toko ini!” Bibi Rika berjalan tergesa gesa kearahku dengan nampan di tangannya kemudian menyodorkan cangkir berisi Hot Cocoa. Dengan segera kutegak minuman itu, lezat dan panas. “Wah... kue tar buatan ibumu,ya?” Bibi Rika segera meraih bungkusan yang sedari tadi membebani lenganku.
“Hm... Kamu bisa beristirahat dulu. Baru ada satu pelanggan,” Ia menyeretku masuk semakin dalam ke toko. Siluet seorang laki laki yang sedang membidikkan cue segera tertangkap oleh mataku. “Oh... Dia seumuran denganmu,” Bibi Rika mengerling kearahku.
“Bibi... Sudahlah, aku mau mulai bekerja,” Aku berjalan dengan tergesa gesa kearah konter yang berada di tengah ruangan. Bibi Rika menghempaskan diri disebuah sofa empuk yang terletak disamping konter. Segera saja diirnya terlelap. Ia pasti kelelahan bekerja tanpa Paman Hendra.
“Vanilla Latte satu,” seru laki laki itu. Seharusnya ia menghampiri konter dan memesan dengan baik baik. Mungkin Bibi Rika sudah terbiasa dengannya, tapi aku belum sama sekali.
Aku membalasnya dengan seruan juga, “IYA. TUNGGU!”
Beberapa menit kemudian aku menghampiriya dengan sebuah nampan di tanganku. Kuletakkan secangkir vanilla latte di meja terdekat darinya. Ia menoleh sebentar, kemudian kembali fokus pada bola.
Aku pernah melihat wajah seperti ini di sekolahku. Kutepuk bahunya, ia menoleh dengan tatapan heran. “Aku pernah melihatmu di sekolah. Ini bukan tempat yang baik untuk siwa SMA!”
Ia tertawa sinis sembari mengamati seragamku lalu mendengus, “Ini juga bukan tempat yang baik untuk siswi SMA sepertimu,”
“Aku membantu Bibi Rika mengelola toko ini!” Elakku. Ia menatapku dengan tatapan ia tidak percaya dengan ucapanku kemudian memalingkan wajahnya dengan sombong.
“Sama saja. Bagaimana jika aku melaporkanmu pada komite SMA Alam Sejahtera? You’ll be drop out soon, girl.” Laki laki itu membidikkan cue setelah berkata begitu. Aku cukup kagum dengan aksen Amerikanya yang benar benar kental.
“Namaku bukan girl. Aku Kiza. Keeza Kayana,” Bantahku. Kenapa ia bertindak ‘sok’ sekali dengan menyebutku ‘girl’?
“Sudahlah. Pergi dari sini  atau aku panggil tantemu.” Ancamnya. Segera aku beranjak meninggalkan laki laki galak itu. Jika ia benar benar siswa SMA-ku, aku akan menumuinya dan memberitahu pada teman temannya tentang perilaku kasarnya itu. Tunggu, aku tidak punya teman. Siapa yang akan membelaku jika aku bertindak gegabah seperti itu? Aku hanya mengenal Niki, Rhea, dan Mia.
Aku tetap menghafalkan perawakan sosok itu dari kejauhan. Dirinya terlihat asing dengan iris ungu abu maive di kedua manik matanya, yang entah bagaimana terlihat begitu tepat di wajahnya. Manik itu tadi ia gunakan untuk menatapku dengan pandangan merendahkan. Rambutnya hitam raven dengan potongan yang tidak rapi. Tubuhnya sangat jangkung 178 cm, mungkin.
Pukul 4 sore. Suasana sepi toko sudah berganti dengan ramainya candaan sekelompok laki laki yang sedang menikmati burger di sudut. Paman Hendra juga sudah pulang dan menggantikanku melayani pelanggan. Aku beristirahat sebentar sambil membaca manga Tooyama Ema yang baru saja kubeli.
Setelah cukup puas membaca, aku berpamitan pada Bibi Rika.“Kiza pulang dulu tante, sudah sore.” Ia memperbolehkanku pulang dan menghadiahi sekeranjang cupcake yang baunya sangat menggoda.
Laki laki itu sudah pulang setengah jam lalu. Mungkin ia jengah karena terus kuperhatikan. Tunggu jika dia benar benar siswa dari sekolahku, seharusnya ia sudah sangat populer sekarang. Iris ungu abu maive itu akan menarik perhatian sejuta siswa. Artinya ia bukan siswa sekolahku. Duh, tadi mengapa aku nekat menghampirinya?
Setelah keluar dari daerah pertokoan itu, aku menghentikan sebuah bis yang melalui rumah. Kuhempaskan diriku di salah satu jok, disamping seorang laki laki yang berseragam sama denganku. Laki laki itu sedang sibuk membaca sebuah manga. Naruto. Aku juga suka membaca manga Naruto.
Aku melirik wajah laki laki itu. Mayo, laki laki paling tampan di angkatan 105. Sekaligus menjabat menjadi laki laki paling sering di cap playboy, populer dan dekat dengan banyak siswi. Mayo berkulit putih dengan potongan trendy dan senyum memikat. Dia juga memiliki suatu hal yang bisa menjadikan wajahnya selalu ceria.
‘Orang populer...’ batinku mencemooh Mayo. Aku segera menoleh menatap jendela lekat lekat, memperhatikan setiap gerakan semu pohon yang terlintasi. Begitu menyihir, entah berapa lama aku berdiam menatap pemandangan maya itu.
“Eh, kamu...” Suara bariton, mungkin ini suara Mayo dan penyebab banyak siswi merasa doki – doki saat berbicara dengannya. Suaranya begitu gentle, halus, ceria, asik dan romantis. Aku menoleh dengan semangat. Mungkin jika aku dekat dengan Mayo, aku bisa memiliki teman. Mungkin lebih, aku bisa jadi populer. Maksudnya, Mayo adalah anak populer dan dekat dengannya pasti bisa menjadikan aku populer juga.
Mayo terlihat berpikir keras, dibelakangnya berdiri seorang laki laki yang juga mengenakan seragam yang sama denganku. Laki laki itu menunduk namun sudut bibirnya tersenyum ramah. Dari sini, ia begitu mirip dengan laki laki galak di toko Bibi Rika. Mungkin yang berbeda hanya tingkah, warna iris dan tinggi badan. Laki laki galak itu menyebalkan, iris biru maive dan jangkung. Sedang laki laki yang dihadapanku sopan, iris hitam obsidian dan tidak setinggi itu.
“Aliza. Bisa pindah? Raffael mau duduk situ,” Ucapan Mayo ditutup dengan simpul kecil di bibirnya, cukup untuk menyogokku agar pindah.
“Ake-eza Kayana.” Ralat laki laki dihadapanku yang ternyata bernama Raffael. Ia mengeja namaku dengan sempurna. Mungkin benar ia laki laki di toko itu, bagaimana dia bisa tahu nama lengkapku jika aku tak memberitahunya? Biasanya orang orang memanggilku dengan nama Aliza, Kiza ataupun Akiza. Itu juga kalau ada yang memanggilku, biasanya tidak ada. Lagipula aku bukan orang yang cukup penting sehingga namanya diketahui seantero sekolah. Aku lebih menuju siswa yang setengah menghilang setengah ada namun tidak ada yang peduli.
Aku mengangguk. “Iya, gak apa apa.”.
Aku bangkit dari tempat dudukku kemudian melukiskan seutas senyum sopan yang sedikit membentuk lesung pipi kananku.
Kupilih duduk disamping seorang ibu ibu yang terlihat sedang sibuk menekan berbagai tombol di hpnya, tepat disamping mantan bangkuku yang kini diduduki Mayo. Ibu-ibu gaul yang sangat berbeda dengan Mama yang amat sederhana. Mungkin tidak duduk disamping Mayo ada gunanya juga. Aku bisa berpikir jernih dan mulai menghubung hubungkan antara Raffael dengan laki laki itu.
‘Mereka satu orang yang sama! Seperti di manga shoujo dimana tokoh laki lakinya memiliki dua sifat.’ Batinku berkonklusi. Aku memang genius! Tapi bagaimana dengan tinggi badannya? Mungkin Raffael yang kutemui di Toko Billiard sedang mengenakan hak atau sejenisnya.
“Kiza,” Aku menoleh ke samping. Mayo memanggilku. Ia berhasil merusak kegiatan berhipotesisku.
“Kamu turun di halte 4?” Aku mengangguk. Ternyata Mayo canggih, ia bisa tahu dimana aku turun tapi salah menyebut namaku menjadi Liza. Ajaib sekali.
“Kamu pasti gak bawa payung? Mau aku antar? Sebenarnya kalau kamu tidak membawa payung, itu lebih merepotkan daripada membawanya.” Aku mengerjapkan mataku kaget dan berusaha terbangun dari mimpi apapun ini. Mana mungkin ia tahu, aku menganggap payung itu merepotkan?
“Hah? Tapi kan.. Ya,” Lidahku setengah tercepit karena otakku kebingungan merangkai kata.
“HALTE 4! HALTE 4!” Teriakan kondektur terdengar, memberitahu bahwa halte 4 telah dekat.
“Kamu takut diculik? Oke... Ini Kartu Pelajarku. Kamu bawa sebagai jaminan.” Mayo mengangkat telapak tanganku dan meletakkan sebuah kartu pelajar dari sekolahku disitu. Aku masih melongo namun tetap memasukkan ‘jaminan’ tersebut disakuku. Untuk jaga jaga. “Lagian siapa yang mau nyulik kamu?” Aku ber-hehehe menjawab pertanyaannya.
“Udahlah ayo!” Entah dengan keberanian macam apa, jemari Mayo menggenggam pergelangan tanganku yang terlapisi jas biru sekolah.
Aku melirik sebentar ke arah Raffael sebentar, laki laki itu memerhatikan jalan dengan mata yang menyorotkan suatu hal, aku berani bertaruh ia tak benar benar berkonsentrasi pada jalan. Sepersekian detik kemudian, aku bisa melihat bibirnya melengkung, membentuk sebuah senyuman kecil. Apa ia selalu tersenyum dimanapun? Mengapa ia masih bisa berkeliaran di luar RSJ?
Tingkahnya disini sangat berbeda dengan yang kutemui di toko. Suatu hal meyakinkanku mereka adalah satu orang yang sama. Namun hal lain menyangkal pemikiran tersebut. Hei, ini benar benar menarik perhatianku.
 “HALTE 4 TURUN!” Tepat setelah teriakan kondektur itu berakhir, Mayo menarik tanganku lalu menyeretku melewati lautan manusia yang baru saja naik dari halte 4. Beberapa kali aku meminta maaf pada mereka yang tak sengaja aku tabrak akibat seretan Mayo.
Sebelum aku benar benar meninggalkan bis ini, aku melirik ke belakang sekali lagi. Hingga mataku tak sengaja tertumbuk figur Raffael, matanya menatap sendu ke halte 4, bibirnya bergerak mengucapkan beberapa patah kata. Kemudian ia menutup wajahnya dengan buku –yang kutebak itu manga Kuroko No Basuke. Ia mungkin ingin mencari ketenangan dan berpikir. Aku tak bisa melihat ekspresinya lagi, tapi aku yakin dia sedih. Mungkin uangnya untuk bermain billiard sudah habis.
“Kiza?” Entah berapa detik aku memerhatikan Raffael, hingga suara bariton Mayo memanggilku. Raffael mendongak membuat wajahnya kembali nampak, ia sedikit kebingungan mendapatiku mematung menatap kearahnya. Ia menggerakkan bibir, aku yakin ia berkata ‘Hei’.
Manik matanya tidak seindah ungu abu maive, manik itu hitam obsidian mengkilat. Mungkin ia bukan laki laki itu. Mungkin ia hanya saudara laki laki itu.
Aku gelagapan. Dan aku tersadar bahwa banyak orang menatapku dengan tatapan marah atau anak-ini-merepotkan. Aku segera berbalik, kembali menyibak kerumunan manusia untuk keluar dari bis. Kakiku terasa kaku, seakan akan ada yang menahanku untuk tetap disini.
Suara Mayo terdengar lagi, kali ini naik 2 oktaf.
“Ayoo... cepet turun dek. Udah macet lama gara gara kalian.” Omel tante tua dengan bau minyak ikan di sweater coklat yang telah kedodoran di beberapa tempat. Aku mengucapkan kata maaf sekenanya.
Aku ingin menoleh ke belakang lagi untuk terakhir kali, tapi otakku menolak perintah itu. Aku berlari keluar ke arah pintu yang mulai nampak. Dan dengan satu lompatan kecil, aku keluar dari bis itu.
Mayo menatapku masih dengan seulas senyum di bibirnya. Dengan gerakan tangkas ia merentangkan payung. Ternyata hujan yang cukup deras sudah turun sedari tadi. Sepertinya tadi aku mati rasa hingga tak menyadari genangan air melapisi tempat yang sedang kupijak dan tetesan air yang mulai menghunjam telapak tanganku.
“Ini kamu pakai,” Ia menyodorkan payung hitam dengan garis oranye di kerangkanya dengan beberapa paragraf yang menyatakan ucapan terimakasih telah mengunjungi sebuah event dan dilengkap segores tanda tangan yang dibawahnya tertulis nama D. Rose. Bunga mawar macam apa itu? Atau mungkin ini pemberian siapanya Mayo yang bernama Rose?
Dari caranya memakai tas, aku tahu dia membawa laptop. “Kamu bawa laptop,kan?” Ia mengangguk. “Kamus aja yang pakai,”
Ia menggeleng. “Nanti kalo laptopmu rusak?” tanyaku.
“Udah kamu aja.” Ulang Mayo. Ia tetap bersikukuh dengan jawabannya. “Aku gak mau pakai payung,”
Aku cukup enggan memulai perang dunia ketiga disini. Pada akhirnya, kami mendiskusikan game, anime, dan manga sepanjang perjalanan. Kami benar benar tipe orang yang mirip dan penyuka hal yang sama. Hampir semua hal yang kusukai adalah hal yang ia sukai juga. Bahkan tanggal lahirku terlambat satu minggu darinya.
Setelah berjalan beberapa menit, mencuatlah sebuah rumah berwarna oranye-merah ranum yang sangat familiar di mata. Rumahku yang dikelilingi pagar tinggi.
Rumah besar dengan banyak bunga matahari mekar dipekarangannya. Bunga matahari yang aku tanam beberapa tahun silam dari benih pemberian teman lamaku. Aku tak ingat siapa, dan aku tidak peduli. Ayunan putih manis berdiri dengan manis juga dihadapan kebun bunga tersebut, siap mengajakku bermalas malasan seperti biasanya.
“Rumahku sini. Dah Mayo. Sore,” Aku berhenti dihadapan pagar. Ia mengangguk, kemudian melambaikan tangan.
“Kiza. Besok kita pulang bareng lagi. Sore!” Teriak Mayo. Ia berlari menuruni jalan menuju rumahnya. Aku menunggu hingga bayangannya hilang, kemudia memasuki halaman rumahku.
Aku mengetuk pintu. Dan aku pantas terkejut mendapati Kak Kaza yang membukakan pintu. Seharusnya ia pulang satu minggu lagi, kenapa ia dirumah sekarang? Segerta terdengar suara Zaki yang mengoceh tanpa paham apa yang ia ocehkan. Suaranya begitu cedal dan menganggu.
“Tatat!!! Tatat!!!” Zaki berseru riang sembari menepukkan tangannya, apa ia menganggap aku semacam sirkus badut yang butuh ditepuki? Ia berhasil membuat dot yang sedari tadi ada digenggamannya terjatuh dan mengotori sofa. Ia berhasil membuat rusuh lagi.
Mata Kak Kaza melirik tajam kearahku, kemudian ia berteriak. “MA, AYA PULANG! Zaki, ayo makan puding bareng. Sofanya kotor lho.” Dan aku cukup terkesan dengan perubahan suara yang begitu drastis saat berhadapan denganku, “Aya, ganti baju terus solat. Mana mau aku biayai kuliah anak malas kayak kamu?”
Ya, itu Kak Kaza. Rambutnya bergelombang manis. Matanya hitam kelam, dan kulitnya seputih porselen. Meskipun tingginya hanya sepundakku, ia punya pride yang lebih tinggi dari tinggi tubuhnya. Hanya karena ia akan membiayai aku kuliah nantinya, bukan berarti ia bertindak sok tahu seperti ini,kan?
Aku menatapnya malas. Kemudian beralih ke Zaki, saudara angkatku. Mudahnya orang tuaku mengadopsi Zaki, karena mereka tak memiliki anak laki laki. Akhirnya,Kaza, aku dan Zaki harus mau menjadi tiga bersaudara dengan nama yang sangat kembar.
“Aya... Temeni adikmu main,” Mama setengah berseru, mungkin dari dapur. Dari baunya aku tahu ia memasak Cah Sawi, makanan kesukaanku.
“IYA MA!!!” Aku balas berseru. “ Hei... Zaki.” Aku lambaikan tangan ke arah si mungil Zaki yang baru berumur 3 tahun. “UDAHKAN MA?”
“Aya!” Mama berbicara dengan nada sedikit malas meladeni sifat kekanak kekanakanku. Menurutnya, aku masih sedikit tidak sreg mendapati aku bukan anak paling muda dan dimanja di keluarga lagi.
“Urgh,” Aku menghempaskan tasku dengan malas di sofa, beberapa centimeter dari tumpahan susu itu.  “Oi, Zak. Kamu tahu Hitler meninggalnya tahun berapa? Gak kan? MA, DIA GAK NYAMBUNG.”
Dan ucapanku itu benar benar berhasil membuat Mama marah dan memaksaku untuk membaca 2 Bab dari kitab biologi, Campbell. Setelah menghabiskan 2 jam membaca buku yang beratnya berton-ton itu aku bisa merasakan kelopak mataku seakan copot. Dan aku terlelap begitu saja.
...
Pada minggu pertama bulan Desember, program ‘Tutor Sebaya’ sudah mulai berjalan. Dan aku berada dalam satu kelompok dengan anak anak dari kelas XI D di hari Rabu dan Kamis. Tempatnya di rumah Bu Ririn.
Raffael. Oh, aku juga pernah bertemu dengannya di bis. Mungkin ia juga laki laki toko biliard!
Rendy. Ketua ekskul band. Populer.
Po. Setahuku, dia gembul.
Tutor, Bu Ririn. Guru paling asyik sedunia dan gaul banget. Hanya jika, hari ini adalah hari kebalikan.
Sore ini, aku berada di halaman rumah Bu Ririn. Rumahnya sangat luas. Dinding batakonya dibiarkan polos tanpa cat. Sebuah flower bed yang diisi rumput yang mengering berdiri manis di dekat dinding. Dari sini, aku bisa memerhatikan jendela di lantai atas yang terlihat sangat suram.
 Sebuah mata merah menatapku dari jendela horror itu!
Memang hanya ilusiku  semata. Namun berhasil membuat bulu kudukku merinding. Aku ketakutan. Aku ingin menjerit, namun tak satupun suara lolos dari bibirku. Aku hanya bisa merasakan air mata mengalir tanpa terkendali. Bahkan tubuhku mulai gemetaran.
Dari ekor mata, tampak sebuah Honda Jazz hitam hendak parkir di halaman Bu Ririn. Aku hendak menyingkir dan memasuki rumah Bu Ririn namun kakiku terus tertancap di tempat itu, seperti terikat lem transparan.
“Aish... Ayo jalan,” Aku menggerutu kepada kakinya yang terus membeku.
Pintu mobil itu terbuka, aku menutup matanya dan mulai was was menunggu hardikan pengemudi mobil tersebut. Mungkin ini dramatisasi akibat terlalu banyak menikmati fiksi berbau romance. Lama aku menutup mata, namun tak satupun hardikan menyapa telingaku. Kuputuskan untuk membuka mata. Dan aku mendapati Raffael, sedang menatapku dengan mata tak percaya. Tak lama kemudian, ia tertawa lucu atas kejadian aneh tadi.
“Aku Raffael,ingat?” Suaranya bergetar. Entah untuk alasan apa. Dan kini ia menunduk dalam – dalam, aku berusaha menahan tawa akan kelakuan anehnya. Dan aku berhasil, mengeluarkan semua tawa yang susah payah aku redam.
“Hm? Ada apa?” Ia terlihat begitu kebingungan mendapatiku yang tak berhenti tertawa meski 5 menit telah berlalu.
Dan aku sangat terkejut mendapati Raffael ikut tertawa. Ia tidak tertawa sinis, ia tertawa senang. Aku menghentikan tawaku dan menatapnya dengan tatapan bingung.
“Satu, kelakuanmu aneh. Apa kamu kira aku sejenis laki laki yang akan memarahimu, kemudian bermusuhan dan secara tiba tiba jadian? Klise.” Duh, tebakan itu sangat tepat. “Dua, saat kamu tertawa pundakmu bergetar meski suara tawamu kecil.”
 Kami tertawa, menertawai kebodohan masing masing. Atmosfer terasa begitu hangat dan menyenangkan.
Entah mengapa Raffael menawariku ke sebuah kedai es krim di sekitar tempat itu, dan entah mengapa juga aku menyetujui ide Raffael. Kadang kita memang berhak melakukan suatu hal tanpa alasan yang pasti. Ia pasti sama sekali bukan laki laki billiard itu.
Konternya berada di pojok dengan hiasan es krim super besar. Hanya ada 8 coffee table yang dikelilingi oleh sofa setengah lingkaran berwarna oranye. Dinding oranye bergaris garis itu mengingatkanku pada bola basket. Beberapa foto terfigura dengan manis, pemain basket sedang melakukan lay up dan gerakan lain yang tak kuketahui. Yang jelas itu indah.  Lantai hard wood dari kayu pinus itu benar benar bisa membuatku merasa berada di lapangan basket indoor.
“Hoi,mang!” Raffael pasti sudah akrab dengan si pemilik kedai ini. Kemudian laki laki itu telah melupakan keberadaanku dan berbincang bincang akrab dengan pemilik kedai tadi.
Aku memilih menyibukkan diri dengan mencari tempat duduk. Sebuah coffee table yang benar benar menyerupai bola basket dengan sofa oranye setengah lingkaran menjadi pilihan pertama. Jendela yang sangat luas dan terkesan vintage sangat menarik perhatian. Jendela ini sedikit mengingatkanku pada ruang kelas XI A.
“Aku gak tau seleramu. Jadi aku pilihin Vanilla.” Raffael berujar sembari menyodorkan segelas es krim yang mengeluarkan aroma vanilla menggoda. Embun air di sekeliling gelas memamerkan kesegarannya.
“Makasih,” Aku sangat suka vanilla. Aku segera menyendok tumpukan es krim vanilla di gelas. Kumakan es krim itu dengan barbar. Rasa dingin dari setiap sekopnya segera melewati kerongkongan. Manis, lembut, dan beraroma.
Waktu sudah berlalu lebih cepat dari yang kupikirkan. Saat aku teringat dengan jam tangan, benda itu sudah menunjukkan pukul 3. Kami sudah telat setengah jam atau lebih.
Ia berbeda dengan Mayo. Kami berdua sangat berbeda. Ia tidak terlalu memedulikan sekolah. Sedangkan aku sangat peduli –karena aku hancur di pertemanan. Ia menyukai basket –aku setengah tidak percaya. Sedangkan aku sama sekali tidak bisa. Ia tidak terlalu menyukai anime. Aku sangat suka hal yang berbau jepang. Mungkin di bidang game saja kami sama. Namun, ia menyukai game online. Sedang aku tidak bisa memainkan game online akibat ibuku. Entah kenapa, kami menghindari pembicaraan yang menyangkut hobi. Kami juga tidak membicarakan game. Tidak ada topik, namun banyak yang ingin aku katakan mengenai hal paling umum padanya dan semua cerita tentang kehidupan masa SMA-ku yang suram.
“Kamu pernah main billiard?” Tanyaku untuk memastikan semua tebakanku.
Ia menatapku dengan tatapan penuh tanya. “Aku bukan penggemar billiard. Aku maniak basket, Kiza. Lagipula bukannya itu dilarang?”
Jadi dia bukan laki laki di Toko Billiard itu. Sudahlah, mereka berdua tak berhubungan. Untuk apa dipikirkan lagi?
“Kita sudah bolos pelajaran ½ jam. Ayo balik,” Aku bangkit dari kursi. Kemudian melirik gelas tadi untuk memastikan apakah tidak ada tetes es krim yang tersisa disana.
“Oke..” Suara Raffael terdengar sangat sayu dan kecewa. Pada akhirnya, kami tetap berjalan beriringan menuju rumah Bu Ririn sembari berbicara. Topik yang kami bicarakan sangat ringan, semua orang tahu dan tidak memiliki standar mutu.
Dan aku berdoa, semoga kami tidak segera sampai tujuan.
Mungkin, alasan aku menangis tadi bukan kedua mata merah yang  kulihat tadi. Mungkin, aku ketakutan jika ditolak di kelompok ini.
Mereka menatapku dengan tatapan tak percaya. Aku benar benar mengigil sekarang. Apa yang mereka pikirkan tentang ‘Kiza’ sekarang? Gadis aneh? Orang aneh? Siswa aneh? WNI aneh? Atau manusia aneh?
Sebuah telapak tangan menepuk bahuku, seperti menenangkan bahwa semuanya akan baik baik saja. Aku menoleh,Raffael.
Kemudian, semuanya mengalir dengan normal. Tiba tiba saja, aku dekat dengan mereka. Raffael sering membantuku bersosialisasi, mencari topik yang mungkin nyambung dan lain sebagainya. Waktu berlangsung begitu cepat. Ini pertama kalinya setelah insiden penamparan Jenny, aku ada didalam sebuah kelompok, lalu tertawa bersama mereka.
Aku juga baru tahu,ternyata karena saking pendeknya, Raffael sering dipanggil anak SD. Namanya juga dimodifikasi menjadi Rifa, agar menyerupai perempuan.
Raffael mengantarku pulang. Sebelum berdiri terlalu dekat dengan pagar, laki laki itu berseru dihadapan Honda Jazz hitam yang ia gunakan untuk mengantarku.
“Jadi apa yang kamu pikirin soal kami sekarang?”
Aku hanya tertawa pelan. “Po lebih gembul 10 kilo dari yang aku kira. Rendy penggila anime..”
Aku sengaja menggantungkan kalimatnya, hanya untuk melihat tatapan penasaran milik Raffael. “Kamu tetap pendek. Mungkin lebih pendek 5 cm dari aku. 167 ya?”
“4 cm. Kita selisih 4 cm. Liat aja, besok aku jadi TINGGI!!”
“Ya. Aku percaya kalo kamu pake high heels ibumu besok,”
“Aya!”
Semburat jingga sudah menjadi latar belakang sosoknya yang sangat pendek itu. Matahari akan kembali ke peraduaanya, namun aku masih berdiri menunggu kalimatnya meluncur dari bibir laki laki kurang tinggi badan itu.
 “Aku manggil kamu ‘Aya’. Dari kata Kayana,” Ujarnya mantap.  Aku kembali kaget mendapati ia tahu nama belakangku.
“Sebaiknya jangan...” Aku tidak benar benar membenci nama ‘Aya’, namun entah kenapa saat ia mengucapkan nama itu. Suaranya malah terdengar seperti tumbuhan busuk dan pisau silet yang setiap malam selalu memanggilku. Perutku mual seperti tertonjok mendengar kata ‘Aya’. Kepalaku pusing dan lenganku lemas seperti dicengkeram erat. Aku bisa bertindak biasa saat keluargaku memanggilnya Aya, namun mungkin tidak dengan orang lain.
Wajah Raffael perlahan berubah menjadi suatu bentuk yang sudah mulai kuhapal. Wajah itu masih sama, tak terlalu nampak karena kurangnya pencahayaan. Bibirnya menyeringai tajam. Sayatan di pipinya mengeluarkan darah kental. Ia mengangkat lengannya, menampakkan 3 garis goresan pisau disana.
Sosok itu mendesis dingin kearahku, “Aya...”
“Kiza! Maaf, aku lancang memodifikasi namamu,” Seruan Raffael berhasil mengusir bayang si wajah hitam itu.
Aku benar benar membenci si wajah hitam itu. Aku takut pada si wajah hitam yang selalu membayangi pikiranku saat aku akan tidur. Ketika aku sedang ketakutan, wajah hitam itu pasti akan menyapaku. Ia sering berteriak memintaku ‘Pergi dan melarikan diri’ atau kadang ‘awas! Bahaya’. Bukannya yang berbahaya itu dirinya?
“Bukan itu, Fel. Rasanya aku pusing, waktu kamu manggil aku memakai nama ‘Aya’.” Aku tidak mungkin menceritakan tentang mual, tumbuhan busuk, dan si wajah hitam.
“Kamu baik baik saja?” Wajahnya terlihat cemas.
“Ya. Cuma aku rasa ini aneh. Saat keluargaku memanggilku ‘Aya’, aku baik baik saja.”
“Udahlah, miss Biology. Sebaiknya kamu melupakan hal seperti itu. Aku janji gak akan manggil kamu ‘Aya’ la...” Candaan Raffael terpotong, mungkin karena melihatku menutup telinga. “Akeeza Kayana?”
Telingaku berdengung seperti jutaan lebah menyerbunya. Suara suara anak kecil dari masa lalu berbenturan di otakku membentuk suara pantulan yang makin rancau. Setiap jeritan dan tawa memekakkan telingaku. Aku setengah sadar setengah tidak. Efek saat Raffael mengucapkan nama ‘Aya’ ternyata sangat kuat.
Aku berusaha berkonsentrasi pada salah satu suara dari beribu dengungan di kepalaku. Sosok si wajah hitam berkedip bergantian dengan sosok lain yang begitu terang benderang seperti TV hitam putih tua. Lalu semuanya menjadi putih kelabu hanya ada suara.
“Aya... Ayo lari,” Nadanya begitu sama dengan suara Raffael. “AYA!”
“Seharusnya aku mengenalmu lebih cepat agar kamu bisa datang ke pesta ulang tahunku. Oke, kamu harus janji. Setelah aku kembali, kamu harus ke rumahku dan menghadiri pesta ulang tahunku lalu star gazing bersama! Dan terakhir, ayo kita mengadakan pesta pernikahan!” Nada suara itu sama dengan si wajah hitam. Apa? Dulu aku pernah berjanji menikah dengan si hitam?
“Kamu suka bunga matahari? Tanam ini waktu kamu pulang ya...” Suara si hitam lagi.
Melodi suatu instrumen mengalun lembut. “Suaranya indah,kan? Aku yang mengkomposisi musik ini...” Suatu bagian dari diriku membisiki bahwa sumber bunyi itu adalah sebuah kotak musik. Aku kembali merasa tenang dan suara lainnya melenyap, meninggalkan aku dan simfoni indah itu.
“Aya... Kamu tidak boleh kembali kesini. Ingat, kamu harus selamat,” Itu suara terakhir yang berbisik sebelum aku terlelap dalam kegelapan hitam dan abu yang tak berujung.
...
Hari ini aku kembali membantu Bibi Rika. Dan targetku sudah ada dipelupuk mata, orang yang menyerupai Raffael. Segera aku menghampirinya dengan langkah lebar. Kutepuk bahunya sekali lagi, dan dia segera menoleh.
Great. Stupid Kiza again,” Bagus. Ia masih mengingat namaku dan aksen bicaranya sangat Amerika, berbeda dengan Raffael. Sudahlah, tanyakan apakah ia Raffael atau tidak.
“Kamu saudaranya Raffael?” Tebakku.
Ia menatapku nanar dengan mata penuh amarah. “Jangan ucapkan nama itu didepanku...”
“Kamu mirip Raffael. Tapi sifatmu berkebalikan dengannya! Raffael yang aku kenal sangat ramah dan baik. Kamu bukan Raffael!” Tuduhku lagi.
“Kamu bodoh. Kamu tidak tahu siapa aku dan kamu bertindak seperti kamu tahu semuanya. Siapa Raffael siapa aku, apa sebegitu pentingnya bagimu?” Nada bicara laki laki itu naik 1 oktaf.
“Aku memang tidak tahu semuanya. Tapi Raffael selalu membantuku. Dan aku menginterogasimu seperti ini karena rasanya kamu adalah sosok yang penting bagi Raffael. Mungkin semacam keluarga atau apalah.” Sebenarnya aku tidak tahu sama sekali alasan untuk terus memecahkan ‘misteri’ ini.
Kemudian, ia mengeluarkan pernyataan yang membuatku tercengang. “Bagaimana jika aku adalah alter ego dari Raffael?” Aku menatapnya tak percaya. “Raffael belum sadar, tapi setiap ia tertidur aku mengambil kontrol dari tubuhnya.” Lanjut ‘Raffael’ diiringi seringaian jahat dari wajahnya.
“HAH?!” Aku berseru. Mana mungkin hal seperti itu terjadi dalam kehidupan nyata?
“Mudahnya ada dua jiwa yang tinggal di satu tubuh. Raffael yang bodoh dan hanya memikirkan basket dan aku...” Tandasnya dalam suara dingin.
“Ba... Bagaimana dengan mata? Mata kalian berbeda!” Sangkalku.
“Kamu belum pernah mendengar tentang contact lens?” Ia menatapku malas.
“TINGGI BADAN?!”
“Hak... Aku pakai high heels, puas kamu?” Ia mengendikkan bahu bosan.
“SIFAT?” Aku berseru maish tak percaya.
“Aku hanya berpura pura baik denganmu. Lagipula aku hanya membantu hal sekecil itu dan kamu menyukaiku sekarang? Naif.” Ia berujar sinis, sebelum memunggungiku dan kembali terfokus pada cue lagi.
Saat aku kembali berusaha menghubungkan setiap puzzle, bel tua itu kembali berbunyi diiringi dobrakan kasar pada pintu. Seorang laki laki dengan wajah penuh luka masuk. Tangannya dipenuhi otot atau tato, entah mana yang lebih banyak.
Ia berseru lantang, menantang. “RAFFAEL!? DIMANA KAMU?!” Berarti benar bahwa laki laki ini Raffael, kenapa ia begitu berbeda? Raffael yang kutemui sangat berbeda dengan yang satu ini. Mana mungkin dia Raffael?
“HYDGE?” Bibi Rika mencicit ketakutan. Ia memberi kode untuk memintaku kembali ke konter dan tidak ikut ikut dalam masalah pelanggan. HYDGE?!
Comeback so soon, Hydge.” Raffael berjalan dengan angkuh kearah laki laki itu. Ia melewatiku yang masih tercengang dengan kedatangan Hydge. Hydge berlari ke arah kami. Raffael bersiap untuk mengayunkan kepalan tangannya, sebelum aku mencengkeram lengannya.
Hydge mengurangi kecepatan berlarinya, lalu dengan tawa senang ia bersorak.  “AAYA... KAMU MASIH SEKUAT DULU!!!” Hydge, salah satu tetanggaku saat aku masih kecil, segera memujiku yang katanya berhasil mengalahkan undefeatable Raffael.
“Aya?” Wajah Raffael begitu bodoh sekarang. Matanya membelalak kaget. Segera ia menggelengkan kepala seperti mengusir suatu hal dari pikirannya. “HAH? Kalian berdua berteman?”
“Yup... Dan tolong jangan sok akrab memanggilku Aya dan menggunakan tubuh Raffael untuk berkelahi. Jangan lukai dia. Dia harus selalu dalam keadaan optimal untuk berlatih basket.” Aku mengangguk senang sembari menasihati Raffael. Biarlah Raffael ini hidup di tubuh yang sama, asalkan ia tak menganggu yang satunya. Everything is fine right?
“Jadi, kamu menyukai Raffael hingga segitunya ya?” Suara Raffael terdengar begitu sinis dan kejam. Ia menatapku nanar dan sok berkuasa. Entah mengapa rasanya seluruh persendianku terurai saat ini. Setiap benang pembuluh darah mengkusut dan mengabur. Serabut syrafku mulai menggulung dan tertenun menjadi sehelai kain.
“Apa apaan kamu,fel? Mau apa kamu dengan penyelamatku?” Hydge segera merentangkan tangannya diantara kami, sama seperti dulu aku yang selalu melindungi Gege dari teman teman nakalnya.
“Aku tidak menyukai Raffael.” Bantahku. “Gege, bisa bantuin Bibi Rika membuat popcorn dulu? Aku punya masalah pribadi dengan laki laki ini,” Aku menunduk, tidak cukup berani untuk menantang mata maive Raffael yang berkilat marah. Raffael yang ini berhasil membuatku begitu tunduk ketakutan.
“Oh... Pribadi? Seperti masalah hati?” Raven berjalan kearah dinding. Ia mengepalkan tangannya. Apa ia ingin melukai tubuh Raffael lagi?!
“Bagaimana jika aku melakukan ini?” Ia menghantam dinding itu dengan tinjunya. Tentu saja dinding itu hanya mengalami sedikit keretakan sedang jemarinya mengeluarkan darah.
Aku menjerit tertahan. Ya, tuhan. Bagaimana Raffael bisa berlatih besok? Bagaimana reaksinya mendapati jemarinya setengah patah seperti itu?
“Bagaimana jika aku menyakiti orang yang kamu sukai lagi?” Ia melakukan hal yang sama lagi. Darah yang mengucur dari jemarinya semakin banyak.
“STOP! Berhenti.” Aku berseru, ia hanya melirikku kecil dengan cemoohannya sebelum kembali menonjok dinding yang tak bersalah itu. Giginya bergemertak, sebegitu marahkah dia? Apa hidup didalam diri Raffael benar benar menyiksa Raffael lain yang ada dihadapanku ini?
Ia menyeringai kearahku untuk mengetahui ekspresiku. Si wajah hitam itu segera menggantikan setiap garis mukanya. Seringaiannya semakin mengabur dengan bayangan si wajah hitam. Aku menggeleng kuat kuat, mengusir semua siluet yang merasuki alam pikirku.
Sebelum aku kembali memikirkan si wajah hitam, aku berlari mengambil kotak P3K yang tergantung di dekat konter. Saat aku kembali jemari Raffael sudah dipenuhi cairan merah kental itu. Bagaimana ia bisa senekat ini?
“Sini,” Kucengkeram lengannya. Ia berhasil melepaskan diri dengan mudah. “Kesinikan tanganmu, atau aku panggil Gege untuk mengobati lukamu!”
“Humph... Seenaknya memanggil Hydge menjadi Gege,” Gerutunya. Sosok yang tadi begitu menyeramkan hilang berganti menjadi sosok aneh yang berhasil mengocok perutku.
“Hahaha... Kamu mau aku panggil Fefel?” Setelah aku berucap begitu, ia kembali menatapku marah.
“Jangan panggil nama itu. Sudahlah, aku obati lukaku sendiri.” Ia berusaha bangkit namun gagal karena aku kembali mencengkeram tangannya.
“DUDUK dan biarkan aku mengobati lukamu. Anggap saja aku melakukan ini untuk Raffael bukan kamu. Tidak ada masalah,kan?” Ia mematuhi perintahku yang satu ini namun masih memalingkan kepalanya. “Dan lebih baik jika kamu menghilang dan digantikan dengan Raffael sekarang.”
“Kamu sebegitu pedulinya dengan Raffael?” Ia menggumam pelan. Aku tidak harus menjawab pertanyaan aneh itu,kan? “Kamu membenciku bahkan sebelum mengenalku sama sekali. Siapa namaku, apa kamu tahu? Akiza Kayana. AYA?!”
“Kamu berubah, Aya.” Ia segera bangkit bertepatan dengan selesainya aku mengobati luka yang cukup parah. Dengan langkah cepat ia menghampiri konter. Dari sini aku bisa melihatnya memberikan segepok uang tunai pada Bibi Rika. “Bi Rika, ini untuk tipsnya.”
Sebelum melangkah pergi keluar toko, ia menatapku sebentar. “Baka...”
Dan Bibi Rika lebih kaget lagi saat ia mendapati bahwa uang itu memiliki nominal yang cukup untuk merenovasi semua dinding toko ini.
...
Aku dan Raffael berjalan beriringan ke perpustakaan. Beberapa hari ini Niki tidak berangkat hingga aku belum menceritakan tentang Raffael padanya.
Aku sudah bertanya tentang tangannya, namun ia sama sekali tidak mengalami cedera, luka atau suatu apa. Ia benar benar baik baik saja. Tapi mana mungkin itu semua hanya ilusiku?
Hingga sekelebat bayangan menyapa mataku. Sosok yang sama dengan Raffael namun memiliki manik yang berbeda. Ia juga lebih tinggi. Tangan laki laki itu juga diperban! Itu dia, ia bukan Raffael. Ia pembohong!
Aku segera berlari meninggalkan Raffael 1. Kuhampiri Raffael 2 yang sedang tertawa bersama beberapa gadis didepan loker. Ia benar benar orang yang kutemui di toko biliard, caranya tertawa dan pandangannya yang angkuh berhasil membuktikan itu semua.
 “KAMU? BUKANNYA KAMU ALTER EGO DARI RAFFAEL?” Aku berseru dihadapannya.
“Here it goes... Idiot Kiza again. Maya jelaskan ke dia.” Ia sedikit kaget dengan kehadiranku. Namun segera ia bisa menguasai keadaan. Ia memerintah seakan akan Maya adalah pembantunya. Dan bodohnya Maya malah mengangguk girang diiringi sorakan kawan kawannya. Ayo Maya, dimana harga dirimu?!
“Raffael, anak kelas X D? Namanya Raven X A. Baru saja pindah dari Amerika.” Maya menjelaskan, namun aku masih tak percaya. Bahkan jika berita itu disampaikan oleh Presiden RI.
“Hah?! Bukannya kamu sifat lain dari Raffael?” Aku kembali menodongnay dengan pertanyaan sama. Ia menggeleng gelengkan kepala, mungkin muak dengan sifat keras kepalaku.
Ia tertawa licik sebelum kembali mengejekku. “Sama sekali tidak idiot. Aku hanya membohongimu. Dan juga tentang soft lens, sepatu high heels.”
Suara Raffael berteriak dibelakangku saat aku sedang merasa benar benar ingin menonjok wajah Raven. “Raven?!”
“Oh... Raffael. Perkenalkan ini Kiza, orang yang membuatku masuk ke SMA yang sama denganmu.” Secara mendadak ia meraih jemariku, mengaitkan dengan miliknya, kemudian mengangkat jemari kami tinggi tinggi. Seperti ia memamerkannya pada Raffael. “Kami jadian beberapa hari lalu. Tepat setelah aku turun dari pesawat terbang...”
Aku memukul lengannya anarkis. “Jangan mengarang cerita! Gagak bodoh!” Aku ingat bahwa Raven artinya gagak dalam bahasa inggris. Yah, sama seperti sifatnya yang cerewet dan berbicara seenaknya.
Sorry darling. I didn’t know you were a shy girl... You are so brave when you confess your feeling to me.” Ia malah mengayunkan jemariku seakan akan tidak ada yang aneh dari kami berdua. Jujur, yang aneh adalah Raven.
“Ven. Kenapa kamu tidak mengabari aku dan Chara?” Dan Raffael menghiraukannya. Tentu, Chara sejuta kali lebih berarti dariku. Aku memutar bola mata malas akan fakta memuakkan itu. Aku, temannya, sedang disandera oleh laki laki psikopat dan Raffael malah menanyakan kabar Chara? Sialan Raffael.
Beberapa siswa sudah mengelilingi kami, membentuk lingkaran ingin tahu. Beberapa dari mereka mulai berkasak kusuk miring.
Aku harus melepaskan diri dari cengkeraman makhluk gila ini. Kutarik jemariku agar terlepas dari kaitannya. Tidak, ia setengah meremas jemariku dan mampu membuatku meringis kesakitan.
“Aku sudah mengabari Chara. Tapi tidak dengamu.” Raven berucap dengan suara tegas dan tajam. “ STOP bergerak Bakiza. Lihat, kalau kamu bergerak kamu kesakitan,kan? Ayo, aku antar kamu ke UKS, dear.” Tiba tiba suaranya melembut, melembek dan sok gentle hingga membuatku ingin memukulnya.
Aku melongo mendengarnya memanggilku ‘dear’ sekaligus ‘bakiza’, namun aku lebih kaget saat terdengar cekikan geli dari beberapa kakak kelas perempuan. “Ih... Cowoknya so sweet banget ya? Manggil dear begitu...”
Raven menyeretku ke arah UKS. “OI!!! APA APAAN INI?!” Bentakku sedikit keras, namun ia maish tidak peduli.
“AKIZA!!” Seseorang berteriak dibelakangku. “Selamat.” Tunggu, ia memintaku menyelamatkan diri sendiri? Ia tidak berusaha membantuku. Sekarang ia malah tersenyum turut bahagia. Hey, i am in critical situation here.
Ia berhenti menyeretku saat kami ada dihadapan UKS. Ia melepaskan gandengan tangannya. Aku baru akan melarikan diri sejauh mungkin sebelum ia tertawa terbungkuk bungkuk sembari memegangi perutnya. Entah kenapa ini benar benar menghiburku dan membuat kakiku terpaku disini.
Setelah tawanya reda, ia menatapku dengan matanya yang berkilat senang. “Ia tak paham apapun. I hate him a lot. Jadi, apa reaksimu waktu tahu aku bukan alter egonya? Apa sama seperti reaksi bodoh Raffael saat tahu aku dan kamu bergandengan tadi?”
“Aku mau memberitahumu sebuah rahasia besar. Sebagai hadiah akan muka bodoh Raffael tadi,” Tanpa persetujuanku ia mendekatkan kepalanya ke telingaku.
Kata kata yang kemudian terucap dari bibirnya mampu membuatku tercengang. “I’m his half brother.” Ia kemudian memunggungiku dan memasuki ruangan UKS. Sepertinya ia mencari suatu hal disitu.
Half brother? Maksudnya ia dan Raffael memiliki ibu sama atau ayah sama?
Aku menghampiri Raven yang maish sibuk mencari suatu hal. “Half brother? Maksudmu?”
“BAKA KIZA. Jelas saja, ayahnya adalah ayahku. Namun ibunya tidak.” Ia kembali melongokkan kepala ke laci. “Nah, ini dia.”
Ia menyodorkan barang temuannya dengan bangga padaku. Sebuah gunting, apa yang spesial dari gunting ini? “Bersihkan lukaku lagi.” Ia mengangkat jemarinya yang masih diperban.
“Menjijikkan. Kamu tidak berganti perban selama 3 hari?” Kupotong perban yang meliliti jemarinya dengan hati hati. “Apa karena kamu meninggalkan sekelumit uang akhirnya kamu semiskin ini?”
“Huh... Ibuku memintaku operasi di Amerika hanya karena luka bodoh ini.” Dengusnya malas.
Dan aku tidak bisa berharap yang lebih buruk lagi saat ia memaksa pindah Mimi, teman sebangkuku. Apalagi saat tahu ia lebih master di matematika ketimbang aku. Rasanya ingin memukul orang itu dikepalanya. Tunggu, tahan diri Kiza. Dia ahli berkelahi, jangan coba cari masalah.
“Dia Radja Raven. Sahabat kecilku dulu.” Saat kami bertemu Raffael enggan membahas topik yang sedang hot dikalangan para siswa. Ia juga menolak ajakanku untuk berangkat bersama karena ia memiliki janji dengan Rendy.
Itulah akhir dari drama alter ego Raffael dan Raven.
...
‘Besok’ yang dijanjikan Mayo tidak kunjung datang. Aku juga sudah lelah untuk berusaha mencarinya disetiap m2 koridor sekolah, berharap ia melihatku lalu menegurku.
Beruntung aku cukup tidak kesepian hari ini, karena Niki mau menemaniku mengitari sekolah seusai bel pulang berbunyi. Niki menemaniku berkeliling hingga pukul 3. Kemudian, Ia setengah memaksaku untuk duduk duduk di sekitar lapangan basket. Ia beralibi bahwa ia ia lelah. 5 menit kemudian  aku mengajaknya kembali mengitari sekolah, namun ia enggan karena ini adalah pengenalan awalnya agar bisa menjadi pelatih tim basket yang hebat. Mana yang benar?
Kami duduk di sebuah bangku panjang yang dibatasi dengan pagar kawat yang membuat kami tetap leluasa mengedarkan pandangan di lapangan basket. Sebenarnya aku tak terlalu peduli apakah aku bisa melihat isi lapangan atau tidak, hanya ada satu laki laki pendek yang sedang men-dribble bola dan tampaknya ia tak berusaha melakukan tembakan. Membosankan.
“Apakah ada perkembangan dengan Raven?” Kudengar suara Niki setengah berbisik. Sepertinya ia berusaha untuk tidak menganggu ‘pertunjukan’ yang ada dihadapan kami.
“Sama sekali tidak.” Aku menggeleng lemas. “Tidak akan ada per-kem-bang-an apapun Niki. Ia benar benar bikin... sebel.” Aku segera bercerita panjang lebar tentang semuanya tanpa membiarkan setitikpun terlewat dari ceritaku, kecuali di cerita ini aku tak memasukkan nama Raffael sama sekali. Dia bukan tokoh utama ceritaku hari ini, untuk apa aku ceritakan?
“Haha, good for you.” Niki mengacungkan kedua jempolnya padaku sembari tersenyum manis. Niki is a cool girl. “Aku rasa kamu bisa move on ke Mayo,”
“Hei, buat apa aku move on? Aku sama sekali tidak menyukai Raven!” Protesku. Mana mungkin aku suka Raven yang membohongiku dengan jurus alter egonya itu?
Niki adalah semacam Chara, gadis multitelanta, populer nan cantik. Rambutnya sepinggang dan sering dikucir kuda kebelakang. Tapi ia tetap terlihat keren dan anggun. Ia pandai dalam bidang olahraga, gerakannya sangat lincah, bahkan ia mengikuti olimpiade aerobik. Otaknya juga cukup encer. Dan yang paling penting, ia sangat ramah dan baik hati. Ia juga pandai memutuskan suatu perkara. Aku lebih mendukungnya menjadi Ratu Sekolah dibanding Chara.
“Kalau Niki?”
“Eh?” Niki kaget, namun segera kembali tenang. “Aku?” Kuanggukkan kepala, memberi pertanda ‘ya’.
“Orang yang suka bermain basket. Dia tidak pernah mau menunjukkan kemampuannya pada orang lain, tapi aku pernah melihatnya.He is a skillful player,,”
“Eh, anggota klub basket yang mana? Dia pasti tinggi, keren, dan atletis. Aku yakin orang itu juga suka denganmu,” Ayolah, Niki cantik, baik, dan multitalent? Siapa yang tak menerimanya?
Ia menggeleng pelan. “Dia tidak harus seperti itu, Kiz.” Ucapannya terdengar begitu dalam. “Coba kamu ingat- ingat siapa saja di sekolah kita yang kemampuan bermain basketnya tinggi?”
“Hmm... Ivan, Bagas, Riko, Kak Miki... Siapa lagi ya? Anak baru Adit?”
“Sepertinya aku tidak akan memberitahu kamu.” Niki berujar pelan dengan sebuah helaan napas sebagai penutup. Aku memandangnya dengan tatapan kenapa-tidak. “Percayalah, ia berlian yang tertutup lumpur. Dan saat kamu melihatnya, kamu pasti akan jatuh hati ke dia.” Sekeren apa orang yang disukai Niki?
“Mungkin, ucapanmu ada benarnya.” Niki berbicara dengan nada lirih sembari tertunduk. “Ia menyukai aku. Aku sering melihatnya menoleh ke arah sini.” Sekarang wajahnya sedikit memerah. “Ah... Tapi itu gak mungkin!!! Dia pasti tetap fokus ke basket.” Senyumnya mengeluarkan secercah harapan.
Apa mungkin laki laki di lapangan basket yang sedang kami lihat pertunjukannya itu? Aku menengok ke arah lapangan basket, ia sudah tidak ada. Laki laki dengan jersey biru tua dan angka 04 tercetak di belakangnya sudah menguap. Sepertinya aku pernah melihatnya, apa tadi itu the ladies faced boy Raffael?
“Ckck. Sekarang si pelanggar HAM bergabung dengan sekretaris OSIS,ya? Mau cari muka, sana bercemin dulu!” Aku terlalu sibuk mencari keberadaan si jersey 04 hingga tak sadar bahwa Jenny dan bosnya, Chara sudah ada dihadapanku.
Niki tampak acuh dengan ucapan Jenny dan keberadaan Chara. Ayolah, ia bersaing dengan Chara beberapa bulan lalu di lomba kecantikan, kartinian, dan model sekolah. Aku harap aku bisa sekeren Niki.
“Jen, jangan kasar begitu. Hei? Niki, Kiza.” Si putri sekolah mengulaskan sebuah senyum manis di bibirnya.
Aku berdoa agar tidak terjadi tindak kekerasan yang menghasilkan korban disini. Dan doaku dikabulkan dengan munculnya Raven, mungkin kekasih atau pengikut Chara. Biasalah anak populer....
“Chara? Kamu udah liat hasil operasimu?” Dari nadanya Raven terdengar khawatir. Apa aku dan Niki dipaksa untuk menonton drama cheesy romance yang begitu membosankan ini? Lihatlah, sikapnya berubah 180 derajat saat bersama dengan CHARA!
Chara menggeleng kemudian tersenyum manis. “Aku harap hasilnya baik,”
“Ayo kita lihat sekarang. Ibuku bilang sudah keluar.” Raven berjalan memunggungiku. Sebelum benar benar menghilang ia menoleh, “Bakiza.”
“Urgh..” Aku mendengus malas, membiarkan Niki tertawa lucu.
 “Bye... Kalian.” Jenny berbicara dengan canggung. Ia pasti merasa lemah tanpa kawannya tadi.
Aku sudah merasa sedikit jengah akibat Niki terus menerus tertawa tanpa henti. “Oke... Peace. Kalian kayak pasangan di sinetron, awalnya musuhan akhirnya pacaran...”
“Bilang saja kalau kamu yang menyukai Raven...” Aku menggerutu lagi.
“Mendekati, Kiza. Mendekati...” Niki berucap bagaikan kata ‘mendekati’ adalah sebuah mantra kuno yang amat penting.

“SIAPA,NIKI?!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar