P.S : Wow. ^ ^ Kiza sifatnya lucu banget, jadi semangat nulis. Enjoy writing,haha. Belum sempat upload Scattered Journal II. Besok aku janji. XD
Wanna read more? Feel free to follow me oke?
Platform yang tertancap disalah satu
sudut toko ini berbunyi, Billiard Shop Reeka. Bangunannya sama seperti
keterangan Mama, di terasnya terdapat banyak meja dinner dan bergaya Italia. Lantainya
terbuat dari batu kapur pucat yang disusun acak, disampinya berdiri banyak
sekali tumbuhan palem mini yang begitu hijau.
Aku berlari menuju bangunan itu
dengan hati hati, berharap sekotak kue tart yang kubawa takkan belepotan di
kardus. Poniku berayun seiringan dengan setiap langkah yang kuambil. Seharusnya
aku mengajak Niki ketempat ini, biasanya sahabatku itu menyukai hal yang kuno
dan vintage.
Kudorong pintu dengan gerakan
perlahan namun masih bisa membunyikan bel antik warna emas yang tertempel diatasnya.
Ruangan itu cukup luas, meski sebuah meja billiard lebar telah menghabiskan
banyak area,dengan sinar temaram dari dua wall lamp yang tertempel di sudut.
Ubinnya berasal dari keramik berwarna hitam pekat. Dibeberapa bagian luang
berdiri coffee table beserta sofa crimson red elegan. Konternya berhadapan dengan sebuah meja kayu
panjang dengan beberapa stool sebagai tempat duduk pelanggan.
“Bibi Rika?” Panggilku untuk memecah
kesunyian. Tempat ini begitu gelap.
“Oh... Kiza! Aku kira kamu tidak
akan mau membantu bekerja di toko ini!” Bibi Rika berjalan tergesa gesa
kearahku dengan nampan di tangannya kemudian menyodorkan cangkir berisi Hot
Cocoa. Dengan segera kutegak minuman itu, lezat dan panas. “Wah... kue tar
buatan ibumu,ya?” Bibi Rika segera meraih bungkusan yang sedari tadi membebani
lenganku.
“Hm... Kamu bisa beristirahat dulu.
Baru ada satu pelanggan,” Ia menyeretku masuk semakin dalam ke toko. Siluet
seorang laki laki yang sedang membidikkan cue segera tertangkap oleh mataku. “Oh...
Dia seumuran denganmu,” Bibi Rika mengerling kearahku.
“Bibi... Sudahlah, aku mau mulai
bekerja,” Aku berjalan dengan tergesa gesa kearah konter yang berada di tengah
ruangan. Bibi Rika menghempaskan diri disebuah sofa empuk yang terletak
disamping konter. Segera saja diirnya terlelap. Ia pasti kelelahan bekerja
tanpa Paman Hendra.
“Vanilla Latte satu,” seru laki laki
itu. Seharusnya ia menghampiri konter dan memesan dengan baik baik. Mungkin
Bibi Rika sudah terbiasa dengannya, tapi aku belum sama sekali.
Aku membalasnya dengan seruan juga,
“IYA. TUNGGU!”
Beberapa menit kemudian aku
menghampiriya dengan sebuah nampan di tanganku. Kuletakkan secangkir vanilla
latte di meja terdekat darinya. Ia menoleh sebentar, kemudian kembali fokus
pada bola.
Aku pernah melihat wajah seperti ini
di sekolahku. Kutepuk bahunya, ia menoleh dengan tatapan heran. “Aku pernah
melihatmu di sekolah. Ini bukan tempat yang baik untuk siwa SMA!”
Ia tertawa sinis sembari mengamati
seragamku lalu mendengus, “Ini juga bukan tempat yang baik untuk siswi SMA
sepertimu,”
“Aku membantu Bibi Rika mengelola
toko ini!” Elakku. Ia menatapku dengan tatapan ia tidak percaya dengan ucapanku
kemudian memalingkan wajahnya dengan sombong.
“Sama saja. Bagaimana jika aku
melaporkanmu pada komite SMA Alam Sejahtera? You’ll be drop out soon, girl.”
Laki laki itu membidikkan cue setelah berkata begitu. Aku cukup kagum dengan
aksen Amerikanya yang benar benar kental.
“Namaku bukan girl. Aku Kiza. Keeza
Kayana,” Bantahku. Kenapa ia bertindak ‘sok’ sekali dengan menyebutku ‘girl’?
“Sudahlah. Pergi dari sini atau aku panggil tantemu.” Ancamnya. Segera
aku beranjak meninggalkan laki laki galak itu. Jika ia benar benar siswa
SMA-ku, aku akan menumuinya dan memberitahu pada teman temannya tentang
perilaku kasarnya itu. Tunggu, aku tidak punya teman. Siapa yang akan membelaku
jika aku bertindak gegabah seperti itu? Aku hanya mengenal Niki, Rhea, dan Mia.
Aku tetap menghafalkan perawakan sosok itu dari kejauhan. Dirinya
terlihat asing dengan iris ungu abu maive di kedua manik matanya, yang
entah bagaimana terlihat begitu tepat di wajahnya. Manik itu tadi ia gunakan
untuk menatapku dengan pandangan merendahkan. Rambutnya hitam raven dengan
potongan yang tidak rapi. Tubuhnya sangat jangkung 178 cm, mungkin.
Pukul 4 sore. Suasana sepi toko
sudah berganti dengan ramainya candaan sekelompok laki laki yang sedang
menikmati burger di sudut. Paman Hendra juga sudah pulang dan menggantikanku
melayani pelanggan. Aku beristirahat sebentar sambil membaca manga Tooyama Ema
yang baru saja kubeli.
Setelah cukup puas membaca, aku
berpamitan pada Bibi Rika.“Kiza pulang dulu tante, sudah sore.” Ia
memperbolehkanku pulang dan menghadiahi sekeranjang cupcake yang baunya sangat
menggoda.
Laki laki itu sudah pulang setengah
jam lalu. Mungkin ia jengah karena terus kuperhatikan. Tunggu jika dia benar
benar siswa dari sekolahku, seharusnya ia sudah sangat populer sekarang. Iris
ungu abu maive itu akan menarik perhatian sejuta siswa. Artinya ia bukan
siswa sekolahku. Duh, tadi mengapa aku nekat menghampirinya?
Setelah keluar dari daerah pertokoan itu, aku menghentikan sebuah
bis yang melalui rumah. Kuhempaskan diriku di salah satu jok, disamping seorang
laki laki yang berseragam sama denganku. Laki laki itu sedang sibuk membaca
sebuah manga. Naruto. Aku juga suka membaca manga Naruto.
Aku melirik wajah laki laki itu. Mayo, laki laki paling tampan di
angkatan 105. Sekaligus menjabat menjadi laki laki paling sering di cap
playboy, populer dan dekat dengan banyak siswi. Mayo berkulit putih dengan
potongan trendy dan senyum memikat. Dia juga memiliki suatu hal yang bisa
menjadikan wajahnya selalu ceria.
‘Orang populer...’ batinku mencemooh Mayo. Aku segera menoleh
menatap jendela lekat lekat, memperhatikan setiap gerakan semu pohon yang
terlintasi. Begitu menyihir, entah berapa lama aku berdiam menatap pemandangan
maya itu.
“Eh, kamu...” Suara bariton, mungkin ini suara Mayo dan penyebab
banyak siswi merasa doki – doki saat berbicara dengannya. Suaranya
begitu gentle, halus, ceria, asik dan romantis. Aku menoleh dengan semangat.
Mungkin jika aku dekat dengan Mayo, aku bisa memiliki teman. Mungkin lebih, aku
bisa jadi populer. Maksudnya, Mayo adalah anak populer dan dekat dengannya
pasti bisa menjadikan aku populer juga.
Mayo terlihat berpikir keras, dibelakangnya berdiri seorang laki
laki yang juga mengenakan seragam yang sama denganku. Laki laki itu menunduk
namun sudut bibirnya tersenyum ramah. Dari sini, ia begitu mirip dengan laki
laki galak di toko Bibi Rika. Mungkin yang berbeda hanya tingkah, warna iris
dan tinggi badan. Laki laki galak itu menyebalkan, iris biru maive dan
jangkung. Sedang laki laki yang dihadapanku sopan, iris hitam obsidian dan
tidak setinggi itu.
“Aliza. Bisa pindah? Raffael mau duduk situ,” Ucapan Mayo ditutup
dengan simpul kecil di bibirnya, cukup untuk menyogokku agar pindah.
“Ake-eza Kayana.” Ralat
laki laki dihadapanku yang ternyata bernama Raffael. Ia mengeja namaku dengan
sempurna. Mungkin benar ia laki laki di toko itu, bagaimana dia bisa tahu nama
lengkapku jika aku tak memberitahunya? Biasanya orang orang memanggilku dengan
nama Aliza, Kiza ataupun Akiza. Itu juga kalau ada yang memanggilku, biasanya
tidak ada. Lagipula aku bukan orang yang cukup penting sehingga namanya
diketahui seantero sekolah. Aku lebih menuju siswa yang setengah menghilang
setengah ada namun tidak ada yang peduli.
Aku mengangguk. “Iya, gak apa apa.”.
Aku bangkit dari tempat dudukku kemudian melukiskan seutas senyum
sopan yang sedikit membentuk lesung pipi kananku.
Kupilih duduk disamping seorang ibu ibu yang terlihat sedang sibuk
menekan berbagai tombol di hpnya, tepat disamping mantan bangkuku yang kini
diduduki Mayo. Ibu-ibu gaul yang sangat berbeda dengan Mama yang amat
sederhana. Mungkin tidak duduk disamping Mayo ada gunanya juga. Aku bisa
berpikir jernih dan mulai menghubung hubungkan antara Raffael dengan laki laki
itu.
‘Mereka satu orang yang sama! Seperti di manga shoujo dimana tokoh
laki lakinya memiliki dua sifat.’ Batinku berkonklusi. Aku memang genius! Tapi
bagaimana dengan tinggi badannya? Mungkin Raffael yang kutemui di Toko Billiard
sedang mengenakan hak atau sejenisnya.
“Kiza,” Aku menoleh ke samping. Mayo memanggilku. Ia berhasil
merusak kegiatan berhipotesisku.
“Kamu turun di halte 4?” Aku mengangguk. Ternyata Mayo canggih, ia
bisa tahu dimana aku turun tapi salah menyebut namaku menjadi Liza. Ajaib
sekali.
“Kamu pasti gak bawa payung? Mau aku antar? Sebenarnya kalau kamu
tidak membawa payung, itu lebih merepotkan daripada membawanya.” Aku
mengerjapkan mataku kaget dan berusaha terbangun dari mimpi apapun ini. Mana
mungkin ia tahu, aku menganggap payung itu merepotkan?
“Hah? Tapi kan.. Ya,” Lidahku setengah tercepit karena otakku
kebingungan merangkai kata.
“HALTE 4! HALTE 4!” Teriakan kondektur terdengar, memberitahu bahwa
halte 4 telah dekat.
“Kamu takut diculik? Oke... Ini Kartu Pelajarku. Kamu bawa sebagai
jaminan.” Mayo mengangkat telapak tanganku dan meletakkan sebuah kartu pelajar
dari sekolahku disitu. Aku masih melongo namun tetap memasukkan ‘jaminan’
tersebut disakuku. Untuk jaga jaga. “Lagian siapa yang mau nyulik kamu?” Aku
ber-hehehe menjawab pertanyaannya.
“Udahlah ayo!” Entah dengan keberanian macam apa, jemari Mayo
menggenggam pergelangan tanganku yang terlapisi jas biru sekolah.
Aku melirik sebentar ke arah Raffael sebentar, laki laki itu
memerhatikan jalan dengan mata yang menyorotkan suatu hal, aku berani bertaruh
ia tak benar benar berkonsentrasi pada jalan. Sepersekian detik kemudian, aku
bisa melihat bibirnya melengkung, membentuk sebuah senyuman kecil. Apa ia
selalu tersenyum dimanapun? Mengapa ia masih bisa berkeliaran di luar RSJ?
Tingkahnya disini sangat berbeda dengan yang kutemui di toko. Suatu
hal meyakinkanku mereka adalah satu orang yang sama. Namun hal lain menyangkal
pemikiran tersebut. Hei, ini benar benar menarik perhatianku.
“HALTE 4 TURUN!” Tepat
setelah teriakan kondektur itu berakhir, Mayo menarik tanganku lalu menyeretku
melewati lautan manusia yang baru saja naik dari halte 4. Beberapa kali aku
meminta maaf pada mereka yang tak sengaja aku tabrak akibat seretan Mayo.
Sebelum aku benar benar meninggalkan bis ini, aku melirik ke
belakang sekali lagi. Hingga mataku tak sengaja tertumbuk figur Raffael,
matanya menatap sendu ke halte 4, bibirnya bergerak mengucapkan beberapa patah
kata. Kemudian ia menutup wajahnya dengan buku –yang kutebak itu manga Kuroko
No Basuke. Ia mungkin ingin mencari ketenangan dan berpikir. Aku tak bisa
melihat ekspresinya lagi, tapi aku yakin dia sedih. Mungkin uangnya untuk
bermain billiard sudah habis.
“Kiza?” Entah berapa detik aku memerhatikan Raffael, hingga suara
bariton Mayo memanggilku. Raffael mendongak membuat wajahnya kembali nampak, ia
sedikit kebingungan mendapatiku mematung menatap kearahnya. Ia menggerakkan
bibir, aku yakin ia berkata ‘Hei’.
Manik matanya tidak seindah ungu abu maive, manik itu hitam
obsidian mengkilat. Mungkin ia bukan laki laki itu. Mungkin ia hanya saudara
laki laki itu.
Aku gelagapan. Dan aku tersadar bahwa banyak orang menatapku dengan
tatapan marah atau anak-ini-merepotkan. Aku segera berbalik, kembali menyibak
kerumunan manusia untuk keluar dari bis. Kakiku terasa kaku, seakan akan ada
yang menahanku untuk tetap disini.
Suara Mayo terdengar lagi, kali ini naik 2 oktaf.
“Ayoo... cepet turun dek. Udah macet lama gara gara kalian.” Omel
tante tua dengan bau minyak ikan di sweater coklat yang telah kedodoran di
beberapa tempat. Aku mengucapkan kata maaf sekenanya.
Aku ingin menoleh ke belakang lagi untuk terakhir kali, tapi otakku
menolak perintah itu. Aku berlari keluar ke arah pintu yang mulai nampak. Dan
dengan satu lompatan kecil, aku keluar dari bis itu.
Mayo menatapku masih dengan seulas senyum di bibirnya. Dengan
gerakan tangkas ia merentangkan payung. Ternyata hujan yang cukup deras sudah
turun sedari tadi. Sepertinya tadi aku mati rasa hingga tak menyadari genangan
air melapisi tempat yang sedang kupijak dan tetesan air yang mulai menghunjam
telapak tanganku.
“Ini kamu pakai,” Ia menyodorkan payung hitam dengan garis oranye
di kerangkanya dengan beberapa paragraf yang menyatakan ucapan terimakasih
telah mengunjungi sebuah event dan dilengkap segores tanda tangan yang
dibawahnya tertulis nama D. Rose. Bunga mawar macam apa itu? Atau mungkin ini
pemberian siapanya Mayo yang bernama Rose?
Dari caranya memakai tas, aku tahu dia membawa laptop. “Kamu bawa
laptop,kan?” Ia mengangguk. “Kamus aja yang pakai,”
Ia menggeleng. “Nanti kalo laptopmu rusak?” tanyaku.
“Udah kamu aja.” Ulang Mayo. Ia tetap bersikukuh dengan jawabannya.
“Aku gak mau pakai payung,”
Aku cukup enggan memulai perang dunia ketiga disini. Pada akhirnya,
kami mendiskusikan game, anime, dan manga sepanjang perjalanan. Kami benar
benar tipe orang yang mirip dan penyuka hal yang sama. Hampir semua hal yang
kusukai adalah hal yang ia sukai juga. Bahkan tanggal lahirku terlambat satu
minggu darinya.
Setelah berjalan beberapa menit, mencuatlah sebuah rumah berwarna
oranye-merah ranum yang sangat familiar di mata. Rumahku yang dikelilingi pagar
tinggi.
Rumah besar dengan banyak bunga matahari mekar dipekarangannya.
Bunga matahari yang aku tanam beberapa tahun silam dari benih pemberian teman
lamaku. Aku tak ingat siapa, dan aku tidak peduli. Ayunan putih manis berdiri
dengan manis juga dihadapan kebun bunga tersebut, siap mengajakku bermalas
malasan seperti biasanya.
“Rumahku sini. Dah Mayo. Sore,” Aku berhenti dihadapan pagar. Ia
mengangguk, kemudian melambaikan tangan.
“Kiza. Besok kita pulang bareng lagi. Sore!” Teriak Mayo. Ia
berlari menuruni jalan menuju rumahnya. Aku menunggu hingga bayangannya hilang,
kemudia memasuki halaman rumahku.
Aku mengetuk pintu. Dan aku pantas terkejut mendapati Kak Kaza yang
membukakan pintu. Seharusnya ia pulang satu minggu lagi, kenapa ia dirumah
sekarang? Segerta terdengar suara Zaki yang mengoceh tanpa paham apa yang ia
ocehkan. Suaranya begitu cedal dan menganggu.
“Tatat!!! Tatat!!!” Zaki berseru riang sembari menepukkan
tangannya, apa ia menganggap aku semacam sirkus badut yang butuh ditepuki? Ia
berhasil membuat dot yang sedari tadi ada digenggamannya terjatuh dan mengotori
sofa. Ia berhasil membuat rusuh lagi.
Mata Kak Kaza melirik tajam kearahku, kemudian ia berteriak. “MA,
AYA PULANG! Zaki, ayo makan puding bareng. Sofanya kotor lho.” Dan aku cukup
terkesan dengan perubahan suara yang begitu drastis saat berhadapan denganku,
“Aya, ganti baju terus solat. Mana mau aku biayai kuliah anak malas kayak
kamu?”
Ya, itu Kak Kaza. Rambutnya bergelombang manis. Matanya hitam
kelam, dan kulitnya seputih porselen. Meskipun tingginya hanya sepundakku, ia
punya pride yang lebih tinggi dari tinggi tubuhnya. Hanya karena ia akan
membiayai aku kuliah nantinya, bukan berarti ia bertindak sok tahu seperti
ini,kan?
Aku menatapnya malas. Kemudian beralih ke Zaki, saudara angkatku.
Mudahnya orang tuaku mengadopsi Zaki, karena mereka tak memiliki anak laki
laki. Akhirnya,Kaza, aku dan Zaki harus mau menjadi tiga bersaudara dengan nama
yang sangat kembar.
“Aya... Temeni adikmu main,” Mama setengah berseru, mungkin dari
dapur. Dari baunya aku tahu ia memasak Cah Sawi, makanan kesukaanku.
“IYA MA!!!” Aku balas berseru. “ Hei... Zaki.” Aku lambaikan tangan
ke arah si mungil Zaki yang baru berumur 3 tahun. “UDAHKAN MA?”
“Aya!” Mama berbicara dengan nada sedikit malas meladeni sifat
kekanak kekanakanku. Menurutnya, aku masih sedikit tidak sreg mendapati aku
bukan anak paling muda dan dimanja di keluarga lagi.
“Urgh,” Aku menghempaskan tasku dengan malas di sofa, beberapa
centimeter dari tumpahan susu itu. “Oi,
Zak. Kamu tahu Hitler meninggalnya tahun berapa? Gak kan? MA, DIA GAK
NYAMBUNG.”
Dan ucapanku itu benar benar berhasil membuat Mama marah dan
memaksaku untuk membaca 2 Bab dari kitab biologi, Campbell. Setelah
menghabiskan 2 jam membaca buku yang beratnya berton-ton itu aku bisa merasakan
kelopak mataku seakan copot. Dan aku terlelap begitu saja.
...
Pada minggu pertama bulan Desember, program ‘Tutor Sebaya’ sudah
mulai berjalan. Dan aku berada dalam satu kelompok dengan anak anak dari kelas
XI D di hari Rabu dan Kamis. Tempatnya di rumah Bu Ririn.
Raffael. Oh, aku juga pernah bertemu dengannya di bis. Mungkin ia
juga laki laki toko biliard!
Rendy. Ketua ekskul band. Populer.
Po. Setahuku, dia gembul.
Tutor, Bu Ririn. Guru paling asyik sedunia dan gaul banget. Hanya
jika, hari ini adalah hari kebalikan.
Sore ini, aku berada di halaman rumah Bu Ririn. Rumahnya sangat
luas. Dinding batakonya dibiarkan polos tanpa cat. Sebuah flower bed yang diisi
rumput yang mengering berdiri manis di dekat dinding. Dari sini, aku bisa
memerhatikan jendela di lantai atas yang terlihat sangat suram.
Sebuah mata merah menatapku
dari jendela horror itu!
Memang hanya ilusiku semata.
Namun berhasil membuat bulu kudukku merinding. Aku ketakutan. Aku ingin
menjerit, namun tak satupun suara lolos dari bibirku. Aku hanya bisa merasakan
air mata mengalir tanpa terkendali. Bahkan tubuhku mulai gemetaran.
Dari ekor mata, tampak sebuah Honda Jazz hitam hendak parkir di
halaman Bu Ririn. Aku hendak menyingkir dan memasuki rumah Bu Ririn namun
kakiku terus tertancap di tempat itu, seperti terikat lem transparan.
“Aish... Ayo jalan,” Aku menggerutu kepada kakinya yang terus
membeku.
Pintu mobil itu terbuka, aku menutup matanya dan mulai was was
menunggu hardikan pengemudi mobil tersebut. Mungkin ini dramatisasi akibat
terlalu banyak menikmati fiksi berbau romance. Lama aku menutup mata, namun tak
satupun hardikan menyapa telingaku. Kuputuskan untuk membuka mata. Dan aku
mendapati Raffael, sedang menatapku dengan mata tak percaya. Tak lama kemudian,
ia tertawa lucu atas kejadian aneh tadi.
“Aku Raffael,ingat?” Suaranya bergetar. Entah untuk alasan apa. Dan
kini ia menunduk dalam – dalam, aku berusaha menahan tawa akan kelakuan
anehnya. Dan aku berhasil, mengeluarkan semua tawa yang susah payah aku redam.
“Hm? Ada apa?” Ia terlihat begitu kebingungan mendapatiku yang tak
berhenti tertawa meski 5 menit telah berlalu.
Dan aku sangat terkejut mendapati Raffael ikut tertawa. Ia tidak
tertawa sinis, ia tertawa senang. Aku menghentikan tawaku dan menatapnya dengan
tatapan bingung.
“Satu, kelakuanmu aneh. Apa kamu kira aku sejenis laki laki yang
akan memarahimu, kemudian bermusuhan dan secara tiba tiba jadian? Klise.” Duh,
tebakan itu sangat tepat. “Dua, saat kamu tertawa pundakmu bergetar meski suara
tawamu kecil.”
Kami tertawa, menertawai
kebodohan masing masing. Atmosfer terasa begitu hangat dan menyenangkan.
Entah mengapa Raffael menawariku ke sebuah kedai es krim di sekitar
tempat itu, dan entah mengapa juga aku menyetujui ide Raffael. Kadang kita
memang berhak melakukan suatu hal tanpa alasan yang pasti. Ia pasti sama sekali
bukan laki laki billiard itu.
Konternya berada di pojok dengan hiasan es krim super besar. Hanya
ada 8 coffee table yang dikelilingi oleh sofa setengah lingkaran
berwarna oranye. Dinding oranye bergaris garis itu mengingatkanku pada bola
basket. Beberapa foto terfigura dengan manis, pemain basket sedang melakukan lay
up dan gerakan lain yang tak kuketahui. Yang jelas itu indah. Lantai hard wood dari kayu pinus itu
benar benar bisa membuatku merasa berada di lapangan basket indoor.
“Hoi,mang!” Raffael pasti sudah akrab dengan si pemilik kedai ini.
Kemudian laki laki itu telah melupakan keberadaanku dan berbincang bincang
akrab dengan pemilik kedai tadi.
Aku memilih menyibukkan diri dengan mencari tempat duduk. Sebuah coffee
table yang benar benar menyerupai bola basket dengan sofa oranye setengah
lingkaran menjadi pilihan pertama. Jendela yang sangat luas dan terkesan vintage
sangat menarik perhatian. Jendela ini sedikit mengingatkanku pada ruang kelas
XI A.
“Aku gak tau seleramu. Jadi aku pilihin Vanilla.” Raffael berujar
sembari menyodorkan segelas es krim yang mengeluarkan aroma vanilla menggoda.
Embun air di sekeliling gelas memamerkan kesegarannya.
“Makasih,” Aku sangat suka vanilla. Aku segera menyendok tumpukan
es krim vanilla di gelas. Kumakan es krim itu dengan barbar. Rasa dingin dari
setiap sekopnya segera melewati kerongkongan. Manis, lembut, dan beraroma.
Waktu sudah berlalu lebih cepat dari yang kupikirkan. Saat aku
teringat dengan jam tangan, benda itu sudah menunjukkan pukul 3. Kami sudah
telat setengah jam atau lebih.
Ia berbeda dengan Mayo. Kami berdua sangat berbeda. Ia tidak
terlalu memedulikan sekolah. Sedangkan aku sangat peduli –karena aku hancur di
pertemanan. Ia menyukai basket –aku setengah tidak percaya. Sedangkan aku sama
sekali tidak bisa. Ia tidak terlalu menyukai anime. Aku sangat suka hal yang
berbau jepang. Mungkin di bidang game saja kami sama. Namun, ia menyukai game
online. Sedang aku tidak bisa memainkan game online akibat ibuku. Entah kenapa,
kami menghindari pembicaraan yang menyangkut hobi. Kami juga tidak membicarakan
game. Tidak ada topik, namun banyak yang ingin aku katakan mengenai hal paling
umum padanya dan semua cerita tentang kehidupan masa SMA-ku yang suram.
“Kamu pernah main billiard?” Tanyaku untuk memastikan semua
tebakanku.
Ia menatapku dengan tatapan penuh tanya. “Aku bukan penggemar
billiard. Aku maniak basket, Kiza. Lagipula bukannya itu dilarang?”
Jadi dia bukan laki laki di Toko Billiard itu. Sudahlah, mereka
berdua tak berhubungan. Untuk apa dipikirkan lagi?
“Kita sudah bolos pelajaran ½ jam. Ayo balik,” Aku bangkit dari
kursi. Kemudian melirik gelas tadi untuk memastikan apakah tidak ada tetes es
krim yang tersisa disana.
“Oke..” Suara Raffael terdengar sangat sayu dan kecewa. Pada
akhirnya, kami tetap berjalan beriringan menuju rumah Bu Ririn sembari berbicara.
Topik yang kami bicarakan sangat ringan, semua orang tahu dan tidak memiliki
standar mutu.
Dan aku berdoa, semoga kami tidak segera sampai tujuan.
Mungkin, alasan aku menangis tadi bukan kedua mata merah yang kulihat tadi. Mungkin, aku ketakutan jika
ditolak di kelompok ini.
Mereka menatapku dengan tatapan tak percaya. Aku benar benar
mengigil sekarang. Apa yang mereka pikirkan tentang ‘Kiza’ sekarang? Gadis
aneh? Orang aneh? Siswa aneh? WNI aneh? Atau manusia aneh?
Sebuah telapak tangan menepuk bahuku, seperti menenangkan bahwa
semuanya akan baik baik saja. Aku menoleh,Raffael.
Kemudian, semuanya mengalir dengan normal. Tiba tiba saja, aku
dekat dengan mereka. Raffael sering membantuku bersosialisasi, mencari topik
yang mungkin nyambung dan lain sebagainya. Waktu berlangsung begitu cepat. Ini
pertama kalinya setelah insiden penamparan Jenny, aku ada didalam sebuah
kelompok, lalu tertawa bersama mereka.
Aku juga baru tahu,ternyata karena saking pendeknya, Raffael sering
dipanggil anak SD. Namanya juga dimodifikasi menjadi Rifa, agar menyerupai
perempuan.
Raffael mengantarku pulang. Sebelum berdiri terlalu dekat dengan
pagar, laki laki itu berseru dihadapan Honda Jazz hitam yang ia gunakan untuk
mengantarku.
“Jadi apa yang kamu pikirin soal kami sekarang?”
Aku hanya tertawa pelan. “Po lebih gembul 10 kilo dari yang aku
kira. Rendy penggila anime..”
Aku sengaja menggantungkan kalimatnya, hanya untuk melihat tatapan
penasaran milik Raffael. “Kamu tetap pendek. Mungkin lebih pendek 5 cm dari
aku. 167 ya?”
“4 cm. Kita selisih 4 cm. Liat aja, besok aku jadi TINGGI!!”
“Ya. Aku percaya kalo kamu pake high heels ibumu besok,”
“Aya!”
Semburat jingga sudah menjadi latar belakang sosoknya yang sangat
pendek itu. Matahari akan kembali ke peraduaanya, namun aku masih berdiri
menunggu kalimatnya meluncur dari bibir laki laki kurang tinggi badan itu.
“Aku manggil kamu ‘Aya’.
Dari kata Kayana,” Ujarnya mantap. Aku
kembali kaget mendapati ia tahu nama belakangku.
“Sebaiknya jangan...” Aku tidak benar benar membenci nama ‘Aya’,
namun entah kenapa saat ia mengucapkan nama itu. Suaranya malah terdengar
seperti tumbuhan busuk dan pisau silet yang setiap malam selalu memanggilku.
Perutku mual seperti tertonjok mendengar kata ‘Aya’. Kepalaku pusing dan
lenganku lemas seperti dicengkeram erat. Aku bisa bertindak biasa saat
keluargaku memanggilnya Aya, namun mungkin tidak dengan orang lain.
Wajah Raffael perlahan berubah menjadi suatu bentuk yang sudah
mulai kuhapal. Wajah itu masih sama, tak terlalu nampak karena kurangnya pencahayaan.
Bibirnya menyeringai tajam. Sayatan di pipinya mengeluarkan darah kental. Ia
mengangkat lengannya, menampakkan 3 garis goresan pisau disana.
Sosok itu mendesis dingin kearahku, “Aya...”
“Kiza! Maaf, aku lancang memodifikasi namamu,” Seruan Raffael
berhasil mengusir bayang si wajah hitam itu.
Aku benar benar membenci si wajah hitam itu. Aku takut pada si
wajah hitam yang selalu membayangi pikiranku saat aku akan tidur. Ketika aku
sedang ketakutan, wajah hitam itu pasti akan menyapaku. Ia sering berteriak
memintaku ‘Pergi dan melarikan diri’ atau kadang ‘awas! Bahaya’. Bukannya yang
berbahaya itu dirinya?
“Bukan itu, Fel. Rasanya aku pusing, waktu kamu manggil aku memakai
nama ‘Aya’.” Aku tidak mungkin menceritakan tentang mual, tumbuhan busuk, dan si
wajah hitam.
“Kamu baik baik saja?” Wajahnya terlihat cemas.
“Ya. Cuma aku rasa ini aneh. Saat keluargaku memanggilku ‘Aya’, aku
baik baik saja.”
“Udahlah, miss Biology. Sebaiknya kamu melupakan hal seperti itu.
Aku janji gak akan manggil kamu ‘Aya’ la...” Candaan Raffael terpotong, mungkin
karena melihatku menutup telinga. “Akeeza Kayana?”
Telingaku berdengung seperti jutaan lebah menyerbunya. Suara suara
anak kecil dari masa lalu berbenturan di otakku membentuk suara pantulan yang
makin rancau. Setiap jeritan dan tawa memekakkan telingaku. Aku setengah sadar
setengah tidak. Efek saat Raffael mengucapkan nama ‘Aya’ ternyata sangat kuat.
Aku berusaha berkonsentrasi pada salah satu suara dari beribu
dengungan di kepalaku. Sosok si wajah hitam berkedip bergantian dengan sosok
lain yang begitu terang benderang seperti TV hitam putih tua. Lalu semuanya
menjadi putih kelabu hanya ada suara.
“Aya... Ayo lari,” Nadanya begitu sama dengan suara Raffael. “AYA!”
“Seharusnya aku mengenalmu lebih cepat agar kamu bisa datang ke
pesta ulang tahunku. Oke, kamu harus janji. Setelah aku kembali, kamu harus ke
rumahku dan menghadiri pesta ulang tahunku lalu star gazing bersama! Dan
terakhir, ayo kita mengadakan pesta pernikahan!” Nada suara itu sama dengan si
wajah hitam. Apa? Dulu aku pernah berjanji menikah dengan si hitam?
“Kamu suka bunga matahari? Tanam ini waktu kamu pulang ya...” Suara
si hitam lagi.
Melodi suatu instrumen mengalun lembut. “Suaranya indah,kan? Aku
yang mengkomposisi musik ini...” Suatu bagian dari diriku membisiki bahwa
sumber bunyi itu adalah sebuah kotak musik. Aku kembali merasa tenang dan suara
lainnya melenyap, meninggalkan aku dan simfoni indah itu.
“Aya... Kamu tidak boleh kembali kesini. Ingat, kamu harus selamat,”
Itu suara terakhir yang berbisik sebelum aku terlelap dalam kegelapan hitam dan
abu yang tak berujung.
...
Hari ini aku kembali membantu Bibi
Rika. Dan targetku sudah ada dipelupuk mata, orang yang menyerupai Raffael.
Segera aku menghampirinya dengan langkah lebar. Kutepuk bahunya sekali lagi,
dan dia segera menoleh.
“Great. Stupid Kiza again,”
Bagus. Ia masih mengingat namaku dan aksen bicaranya sangat Amerika, berbeda
dengan Raffael. Sudahlah, tanyakan apakah ia Raffael atau tidak.
“Kamu saudaranya Raffael?” Tebakku.
Ia menatapku nanar dengan mata penuh
amarah. “Jangan ucapkan nama itu didepanku...”
“Kamu mirip Raffael. Tapi sifatmu
berkebalikan dengannya! Raffael yang aku kenal sangat ramah dan baik. Kamu
bukan Raffael!” Tuduhku lagi.
“Kamu bodoh. Kamu tidak tahu siapa
aku dan kamu bertindak seperti kamu tahu semuanya. Siapa Raffael siapa aku, apa
sebegitu pentingnya bagimu?” Nada bicara laki laki itu naik 1 oktaf.
“Aku memang tidak tahu semuanya.
Tapi Raffael selalu membantuku. Dan aku menginterogasimu seperti ini karena
rasanya kamu adalah sosok yang penting bagi Raffael. Mungkin semacam keluarga
atau apalah.” Sebenarnya aku tidak tahu sama sekali alasan untuk terus
memecahkan ‘misteri’ ini.
Kemudian, ia mengeluarkan pernyataan
yang membuatku tercengang. “Bagaimana jika aku adalah alter ego dari Raffael?”
Aku menatapnya tak percaya. “Raffael belum sadar, tapi setiap ia tertidur aku
mengambil kontrol dari tubuhnya.” Lanjut ‘Raffael’ diiringi seringaian jahat
dari wajahnya.
“HAH?!” Aku berseru. Mana mungkin
hal seperti itu terjadi dalam kehidupan nyata?
“Mudahnya ada dua jiwa yang tinggal
di satu tubuh. Raffael yang bodoh dan hanya memikirkan basket dan aku...”
Tandasnya dalam suara dingin.
“Ba... Bagaimana dengan mata? Mata
kalian berbeda!” Sangkalku.
“Kamu belum pernah mendengar tentang
contact lens?” Ia menatapku malas.
“TINGGI BADAN?!”
“Hak... Aku pakai high heels, puas
kamu?” Ia mengendikkan bahu bosan.
“SIFAT?” Aku berseru maish tak
percaya.
“Aku hanya berpura pura baik
denganmu. Lagipula aku hanya membantu hal sekecil itu dan kamu menyukaiku
sekarang? Naif.” Ia berujar sinis, sebelum memunggungiku dan kembali terfokus
pada cue lagi.
Saat aku kembali berusaha
menghubungkan setiap puzzle, bel tua itu kembali berbunyi diiringi dobrakan
kasar pada pintu. Seorang laki laki dengan wajah penuh luka masuk. Tangannya
dipenuhi otot atau tato, entah mana yang lebih banyak.
Ia berseru lantang, menantang.
“RAFFAEL!? DIMANA KAMU?!” Berarti benar bahwa laki laki ini Raffael, kenapa ia
begitu berbeda? Raffael yang kutemui sangat berbeda dengan yang satu ini. Mana
mungkin dia Raffael?
“HYDGE?” Bibi Rika mencicit
ketakutan. Ia memberi kode untuk memintaku kembali ke konter dan tidak ikut
ikut dalam masalah pelanggan. HYDGE?!
“Comeback so soon, Hydge.”
Raffael berjalan dengan angkuh kearah laki laki itu. Ia melewatiku yang masih
tercengang dengan kedatangan Hydge. Hydge berlari ke arah kami. Raffael bersiap
untuk mengayunkan kepalan tangannya, sebelum aku mencengkeram lengannya.
Hydge mengurangi kecepatan berlarinya,
lalu dengan tawa senang ia bersorak. “AAYA...
KAMU MASIH SEKUAT DULU!!!” Hydge, salah satu tetanggaku saat aku masih kecil, segera
memujiku yang katanya berhasil mengalahkan undefeatable Raffael.
“Aya?” Wajah Raffael begitu bodoh
sekarang. Matanya membelalak kaget. Segera ia menggelengkan kepala seperti
mengusir suatu hal dari pikirannya. “HAH? Kalian berdua berteman?”
“Yup... Dan tolong jangan sok akrab
memanggilku Aya dan menggunakan tubuh Raffael untuk berkelahi. Jangan lukai
dia. Dia harus selalu dalam keadaan optimal untuk berlatih basket.” Aku
mengangguk senang sembari menasihati Raffael. Biarlah Raffael ini hidup di
tubuh yang sama, asalkan ia tak menganggu yang satunya. Everything is fine
right?
“Jadi, kamu menyukai Raffael hingga
segitunya ya?” Suara Raffael terdengar begitu sinis dan kejam. Ia menatapku
nanar dan sok berkuasa. Entah mengapa rasanya seluruh persendianku terurai saat
ini. Setiap benang pembuluh darah mengkusut dan mengabur. Serabut syrafku mulai
menggulung dan tertenun menjadi sehelai kain.
“Apa apaan kamu,fel? Mau apa kamu
dengan penyelamatku?” Hydge segera merentangkan tangannya diantara kami, sama
seperti dulu aku yang selalu melindungi Gege dari teman teman nakalnya.
“Aku tidak menyukai Raffael.”
Bantahku. “Gege, bisa bantuin Bibi Rika membuat popcorn dulu? Aku punya masalah
pribadi dengan laki laki ini,” Aku menunduk, tidak cukup berani untuk menantang
mata maive Raffael yang berkilat marah. Raffael yang ini berhasil membuatku
begitu tunduk ketakutan.
“Oh... Pribadi? Seperti masalah
hati?” Raven berjalan kearah dinding. Ia mengepalkan tangannya. Apa ia ingin
melukai tubuh Raffael lagi?!
“Bagaimana jika aku melakukan ini?”
Ia menghantam dinding itu dengan tinjunya. Tentu saja dinding itu hanya
mengalami sedikit keretakan sedang jemarinya mengeluarkan darah.
Aku menjerit tertahan. Ya, tuhan.
Bagaimana Raffael bisa berlatih besok? Bagaimana reaksinya mendapati jemarinya
setengah patah seperti itu?
“Bagaimana jika aku menyakiti orang
yang kamu sukai lagi?” Ia melakukan hal yang sama lagi. Darah yang mengucur
dari jemarinya semakin banyak.
“STOP! Berhenti.” Aku berseru, ia
hanya melirikku kecil dengan cemoohannya sebelum kembali menonjok dinding yang
tak bersalah itu. Giginya bergemertak, sebegitu marahkah dia? Apa hidup didalam
diri Raffael benar benar menyiksa Raffael lain yang ada dihadapanku ini?
Ia menyeringai kearahku untuk
mengetahui ekspresiku. Si wajah hitam itu segera menggantikan setiap garis
mukanya. Seringaiannya semakin mengabur dengan bayangan si wajah hitam. Aku
menggeleng kuat kuat, mengusir semua siluet yang merasuki alam pikirku.
Sebelum aku kembali memikirkan si
wajah hitam, aku berlari mengambil kotak P3K yang tergantung di dekat konter.
Saat aku kembali jemari Raffael sudah dipenuhi cairan merah kental itu. Bagaimana
ia bisa senekat ini?
“Sini,” Kucengkeram lengannya. Ia
berhasil melepaskan diri dengan mudah. “Kesinikan tanganmu, atau aku panggil
Gege untuk mengobati lukamu!”
“Humph... Seenaknya memanggil Hydge
menjadi Gege,” Gerutunya. Sosok yang tadi begitu menyeramkan hilang berganti
menjadi sosok aneh yang berhasil mengocok perutku.
“Hahaha... Kamu mau aku panggil
Fefel?” Setelah aku berucap begitu, ia kembali menatapku marah.
“Jangan panggil nama itu. Sudahlah,
aku obati lukaku sendiri.” Ia berusaha bangkit namun gagal karena aku kembali
mencengkeram tangannya.
“DUDUK dan biarkan aku mengobati
lukamu. Anggap saja aku melakukan ini untuk Raffael bukan kamu. Tidak ada
masalah,kan?” Ia mematuhi perintahku yang satu ini namun masih memalingkan
kepalanya. “Dan lebih baik jika kamu menghilang dan digantikan dengan Raffael
sekarang.”
“Kamu sebegitu pedulinya dengan
Raffael?” Ia menggumam pelan. Aku tidak harus menjawab pertanyaan aneh itu,kan?
“Kamu membenciku bahkan sebelum mengenalku sama sekali. Siapa namaku, apa kamu
tahu? Akiza Kayana. AYA?!”
“Kamu berubah, Aya.” Ia segera
bangkit bertepatan dengan selesainya aku mengobati luka yang cukup parah.
Dengan langkah cepat ia menghampiri konter. Dari sini aku bisa melihatnya
memberikan segepok uang tunai pada Bibi Rika. “Bi Rika, ini untuk tipsnya.”
Sebelum melangkah pergi keluar toko,
ia menatapku sebentar. “Baka...”
Dan Bibi Rika lebih kaget lagi saat
ia mendapati bahwa uang itu memiliki nominal yang cukup untuk merenovasi semua
dinding toko ini.
...
Aku dan Raffael berjalan beriringan
ke perpustakaan. Beberapa hari ini Niki tidak berangkat hingga aku belum
menceritakan tentang Raffael padanya.
Aku sudah bertanya tentang
tangannya, namun ia sama sekali tidak mengalami cedera, luka atau suatu apa. Ia
benar benar baik baik saja. Tapi mana mungkin itu semua hanya ilusiku?
Hingga sekelebat bayangan menyapa
mataku. Sosok yang sama dengan Raffael namun memiliki manik yang berbeda. Ia
juga lebih tinggi. Tangan laki laki itu juga diperban! Itu dia, ia bukan
Raffael. Ia pembohong!
Aku segera berlari meninggalkan
Raffael 1. Kuhampiri Raffael 2 yang sedang tertawa bersama beberapa gadis
didepan loker. Ia benar benar orang yang kutemui di toko biliard, caranya
tertawa dan pandangannya yang angkuh berhasil membuktikan itu semua.
“KAMU? BUKANNYA KAMU ALTER EGO DARI RAFFAEL?”
Aku berseru dihadapannya.
“Here it goes... Idiot Kiza again.
Maya jelaskan ke dia.” Ia sedikit kaget dengan kehadiranku. Namun segera ia
bisa menguasai keadaan. Ia memerintah seakan akan Maya adalah pembantunya. Dan
bodohnya Maya malah mengangguk girang diiringi sorakan kawan kawannya. Ayo
Maya, dimana harga dirimu?!
“Raffael, anak kelas X D? Namanya
Raven X A. Baru saja pindah dari Amerika.” Maya menjelaskan, namun aku masih
tak percaya. Bahkan jika berita itu disampaikan oleh Presiden RI.
“Hah?! Bukannya kamu sifat lain dari
Raffael?” Aku kembali menodongnay dengan pertanyaan sama. Ia menggeleng
gelengkan kepala, mungkin muak dengan sifat keras kepalaku.
Ia tertawa licik sebelum kembali
mengejekku. “Sama sekali tidak idiot. Aku hanya membohongimu. Dan juga tentang
soft lens, sepatu high heels.”
Suara Raffael berteriak dibelakangku
saat aku sedang merasa benar benar ingin menonjok wajah Raven. “Raven?!”
“Oh... Raffael. Perkenalkan ini
Kiza, orang yang membuatku masuk ke SMA yang sama denganmu.” Secara mendadak ia
meraih jemariku, mengaitkan dengan miliknya, kemudian mengangkat jemari kami
tinggi tinggi. Seperti ia memamerkannya pada Raffael. “Kami jadian beberapa
hari lalu. Tepat setelah aku turun dari pesawat terbang...”
Aku memukul lengannya anarkis. “Jangan
mengarang cerita! Gagak bodoh!” Aku ingat bahwa Raven artinya gagak dalam
bahasa inggris. Yah, sama seperti sifatnya yang cerewet dan berbicara
seenaknya.
“Sorry darling. I didn’t know you
were a shy girl... You are so brave when you confess your feeling to me.” Ia
malah mengayunkan jemariku seakan akan tidak ada yang aneh dari kami berdua. Jujur,
yang aneh adalah Raven.
“Ven. Kenapa kamu tidak mengabari
aku dan Chara?” Dan Raffael menghiraukannya. Tentu, Chara sejuta kali lebih
berarti dariku. Aku memutar bola mata malas akan fakta memuakkan itu. Aku,
temannya, sedang disandera oleh laki laki psikopat dan Raffael malah menanyakan
kabar Chara? Sialan Raffael.
Beberapa siswa sudah mengelilingi
kami, membentuk lingkaran ingin tahu. Beberapa dari mereka mulai berkasak kusuk
miring.
Aku harus melepaskan diri dari
cengkeraman makhluk gila ini. Kutarik jemariku agar terlepas dari kaitannya.
Tidak, ia setengah meremas jemariku dan mampu membuatku meringis kesakitan.
“Aku sudah mengabari Chara. Tapi
tidak dengamu.” Raven berucap dengan suara tegas dan tajam. “ STOP bergerak
Bakiza. Lihat, kalau kamu bergerak kamu kesakitan,kan? Ayo, aku antar kamu ke
UKS, dear.” Tiba tiba suaranya melembut, melembek dan sok gentle hingga
membuatku ingin memukulnya.
Aku melongo mendengarnya memanggilku
‘dear’ sekaligus ‘bakiza’, namun aku lebih kaget saat terdengar cekikan geli
dari beberapa kakak kelas perempuan. “Ih... Cowoknya so sweet banget ya?
Manggil dear begitu...”
Raven menyeretku ke arah UKS. “OI!!!
APA APAAN INI?!” Bentakku sedikit keras, namun ia maish tidak peduli.
“AKIZA!!” Seseorang berteriak
dibelakangku. “Selamat.” Tunggu, ia memintaku menyelamatkan diri sendiri? Ia
tidak berusaha membantuku. Sekarang ia malah tersenyum turut bahagia. Hey, i
am in critical situation here.
Ia berhenti menyeretku saat kami ada
dihadapan UKS. Ia melepaskan gandengan tangannya. Aku baru akan melarikan diri
sejauh mungkin sebelum ia tertawa terbungkuk bungkuk sembari memegangi
perutnya. Entah kenapa ini benar benar menghiburku dan membuat kakiku terpaku
disini.
Setelah tawanya reda, ia menatapku
dengan matanya yang berkilat senang. “Ia tak paham apapun. I hate him a lot.
Jadi, apa reaksimu waktu tahu aku bukan alter egonya? Apa sama seperti reaksi
bodoh Raffael saat tahu aku dan kamu bergandengan tadi?”
“Aku mau memberitahumu sebuah
rahasia besar. Sebagai hadiah akan muka bodoh Raffael tadi,” Tanpa
persetujuanku ia mendekatkan kepalanya ke telingaku.
Kata kata yang kemudian terucap dari
bibirnya mampu membuatku tercengang. “I’m his half brother.” Ia kemudian
memunggungiku dan memasuki ruangan UKS. Sepertinya ia mencari suatu hal disitu.
Half brother? Maksudnya ia dan
Raffael memiliki ibu sama atau ayah sama?
Aku menghampiri Raven yang maish
sibuk mencari suatu hal. “Half brother? Maksudmu?”
“BAKA KIZA. Jelas saja, ayahnya
adalah ayahku. Namun ibunya tidak.” Ia kembali melongokkan kepala ke laci.
“Nah, ini dia.”
Ia menyodorkan barang temuannya
dengan bangga padaku. Sebuah gunting, apa yang spesial dari gunting ini?
“Bersihkan lukaku lagi.” Ia mengangkat jemarinya yang masih diperban.
“Menjijikkan. Kamu tidak berganti
perban selama 3 hari?” Kupotong perban yang meliliti jemarinya dengan hati
hati. “Apa karena kamu meninggalkan sekelumit uang akhirnya kamu semiskin ini?”
“Huh... Ibuku memintaku operasi di
Amerika hanya karena luka bodoh ini.” Dengusnya malas.
Dan aku tidak bisa berharap yang
lebih buruk lagi saat ia memaksa pindah Mimi, teman sebangkuku. Apalagi saat
tahu ia lebih master di matematika ketimbang aku. Rasanya ingin memukul orang
itu dikepalanya. Tunggu, tahan diri Kiza. Dia ahli berkelahi, jangan coba cari
masalah.
“Dia Radja Raven. Sahabat kecilku
dulu.” Saat kami bertemu Raffael enggan membahas topik yang sedang hot
dikalangan para siswa. Ia juga menolak ajakanku untuk berangkat bersama karena
ia memiliki janji dengan Rendy.
Itulah akhir dari drama alter ego Raffael dan Raven.
...
‘Besok’ yang dijanjikan Mayo tidak kunjung datang. Aku juga sudah
lelah untuk berusaha mencarinya disetiap m2 koridor sekolah, berharap ia
melihatku lalu menegurku.
Beruntung aku cukup tidak kesepian hari ini, karena Niki mau
menemaniku mengitari sekolah seusai bel pulang berbunyi. Niki menemaniku
berkeliling hingga pukul 3. Kemudian, Ia setengah memaksaku untuk duduk duduk
di sekitar lapangan basket. Ia beralibi bahwa ia ia lelah. 5 menit
kemudian aku mengajaknya kembali
mengitari sekolah, namun ia enggan karena ini adalah pengenalan awalnya agar
bisa menjadi pelatih tim basket yang hebat. Mana yang benar?
Kami duduk di sebuah bangku panjang yang dibatasi dengan pagar
kawat yang membuat kami tetap leluasa mengedarkan pandangan di lapangan basket.
Sebenarnya aku tak terlalu peduli apakah aku bisa melihat isi lapangan atau
tidak, hanya ada satu laki laki pendek yang sedang men-dribble bola dan
tampaknya ia tak berusaha melakukan tembakan. Membosankan.
“Apakah ada perkembangan dengan Raven?” Kudengar suara Niki
setengah berbisik. Sepertinya ia berusaha untuk tidak menganggu ‘pertunjukan’
yang ada dihadapan kami.
“Sama sekali tidak.” Aku menggeleng lemas. “Tidak akan ada
per-kem-bang-an apapun Niki. Ia benar benar bikin... sebel.” Aku segera
bercerita panjang lebar tentang semuanya tanpa membiarkan setitikpun terlewat
dari ceritaku, kecuali di cerita ini aku tak memasukkan nama Raffael sama
sekali. Dia bukan tokoh utama ceritaku hari ini, untuk apa aku ceritakan?
“Haha, good for you.” Niki mengacungkan kedua jempolnya padaku
sembari tersenyum manis. Niki is a cool girl. “Aku rasa kamu bisa move on ke
Mayo,”
“Hei, buat apa aku move on? Aku sama sekali tidak menyukai Raven!”
Protesku. Mana mungkin aku suka Raven yang membohongiku dengan jurus alter
egonya itu?
Niki adalah semacam Chara, gadis multitelanta, populer nan cantik.
Rambutnya sepinggang dan sering dikucir kuda kebelakang. Tapi ia tetap terlihat
keren dan anggun. Ia pandai dalam bidang olahraga, gerakannya sangat lincah,
bahkan ia mengikuti olimpiade aerobik. Otaknya juga cukup encer. Dan yang
paling penting, ia sangat ramah dan baik hati. Ia juga pandai memutuskan suatu
perkara. Aku lebih mendukungnya menjadi Ratu Sekolah dibanding Chara.
“Kalau Niki?”
“Eh?” Niki kaget, namun segera kembali tenang. “Aku?” Kuanggukkan
kepala, memberi pertanda ‘ya’.
“Orang yang suka bermain basket. Dia tidak pernah mau menunjukkan
kemampuannya pada orang lain, tapi aku pernah melihatnya.He is a skillful
player,,”
“Eh, anggota klub basket yang mana? Dia pasti tinggi, keren, dan
atletis. Aku yakin orang itu juga suka denganmu,” Ayolah, Niki cantik, baik,
dan multitalent? Siapa yang tak menerimanya?
Ia menggeleng pelan. “Dia tidak harus seperti itu, Kiz.” Ucapannya
terdengar begitu dalam. “Coba kamu ingat- ingat siapa saja di sekolah kita yang
kemampuan bermain basketnya tinggi?”
“Hmm... Ivan, Bagas, Riko, Kak Miki... Siapa lagi ya? Anak baru
Adit?”
“Sepertinya aku tidak akan memberitahu kamu.” Niki berujar pelan
dengan sebuah helaan napas sebagai penutup. Aku memandangnya dengan tatapan
kenapa-tidak. “Percayalah, ia berlian yang tertutup lumpur. Dan saat kamu
melihatnya, kamu pasti akan jatuh hati ke dia.” Sekeren apa orang yang disukai
Niki?
“Mungkin, ucapanmu ada benarnya.” Niki berbicara dengan nada lirih
sembari tertunduk. “Ia menyukai aku. Aku sering melihatnya menoleh ke arah
sini.” Sekarang wajahnya sedikit memerah. “Ah... Tapi itu gak mungkin!!! Dia
pasti tetap fokus ke basket.” Senyumnya mengeluarkan secercah harapan.
Apa mungkin laki laki di lapangan basket yang sedang kami lihat
pertunjukannya itu? Aku menengok ke arah lapangan basket, ia sudah tidak ada.
Laki laki dengan jersey biru tua dan angka 04 tercetak di belakangnya sudah
menguap. Sepertinya aku pernah melihatnya, apa tadi itu the ladies faced boy
Raffael?
“Ckck. Sekarang si pelanggar HAM bergabung dengan sekretaris
OSIS,ya? Mau cari muka, sana bercemin dulu!” Aku terlalu sibuk mencari
keberadaan si jersey 04 hingga tak sadar bahwa Jenny dan bosnya, Chara sudah
ada dihadapanku.
Niki tampak acuh dengan ucapan Jenny dan keberadaan Chara. Ayolah,
ia bersaing dengan Chara beberapa bulan lalu di lomba kecantikan, kartinian,
dan model sekolah. Aku harap aku bisa sekeren Niki.
“Jen, jangan kasar begitu. Hei? Niki, Kiza.” Si putri sekolah
mengulaskan sebuah senyum manis di bibirnya.
Aku berdoa agar tidak terjadi tindak kekerasan yang menghasilkan
korban disini. Dan doaku dikabulkan dengan munculnya Raven, mungkin kekasih atau
pengikut Chara. Biasalah anak populer....
“Chara? Kamu udah liat hasil operasimu?” Dari nadanya Raven
terdengar khawatir. Apa aku dan Niki dipaksa untuk menonton drama cheesy
romance yang begitu membosankan ini? Lihatlah, sikapnya berubah 180 derajat
saat bersama dengan CHARA!
Chara menggeleng kemudian tersenyum manis. “Aku harap hasilnya
baik,”
“Ayo kita lihat sekarang. Ibuku bilang sudah keluar.” Raven
berjalan memunggungiku. Sebelum benar benar menghilang ia menoleh, “Bakiza.”
“Urgh..” Aku mendengus malas, membiarkan Niki tertawa lucu.
“Bye... Kalian.” Jenny
berbicara dengan canggung. Ia pasti merasa lemah tanpa kawannya tadi.
Aku sudah merasa sedikit jengah akibat Niki terus menerus tertawa
tanpa henti. “Oke... Peace. Kalian kayak pasangan di sinetron, awalnya musuhan
akhirnya pacaran...”
“Bilang saja kalau kamu yang menyukai Raven...” Aku menggerutu
lagi.
“Mendekati, Kiza. Mendekati...” Niki berucap bagaikan kata
‘mendekati’ adalah sebuah mantra kuno yang amat penting.
“SIAPA,NIKI?!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar